Media Pendidikan – 11 April 2026 | Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menyampaikan pandangannya mengenai pencak silat sebagai cerminan kepribadian bangsa Indonesia dalam sambutan resmi pada Musyawarah Nasional (Munas) XVI Persatuan Pencak Silat Indonesia (IPSI) yang digelar di JCC Senayan, Jakarta, Sabtu, 11 April 2026.
Pencak Silat Sebagai Cerminan Nilai Nasional
Presiden menambahkan bahwa dalam era globalisasi, identitas budaya menjadi semakin penting untuk dipertahankan. Pencak silat, dengan ragam aliran yang tersebar di seluruh kepulauan, menjadi contoh konkrit bagaimana keberagaman dapat bersatu dalam satu jiwa kebangsaan.
IPSI dan Upaya Pengembangan
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum IPSI menanggapi pernyataan Prabowo dengan menyatakan komitmen organisasi untuk meningkatkan kualitas latihan, memperluas jaringan internasional, serta mengintegrasikan nilai budaya dalam kurikulum pelatihan. Ia menyebutkan program “Silat Nusantara” yang akan diluncurkan pada akhir tahun ini, dengan tujuan menumbuhkan rasa kebanggaan generasi muda terhadap warisan tradisional.
Acara Munas XVI IPSI juga memaparkan rencana strategis lima tahun ke depan, meliputi peningkatan fasilitas latihan di daerah‑daerah, penyelenggaraan kejuaraan tingkat provinsi dan nasional yang lebih inklusif, serta kerja sama dengan kementerian pendidikan untuk menjadikan pencak silat sebagai bagian dari mata pelajaran ekstrakurikuler di sekolah.
Dukungan Pemerintah dan Harapan Kedepan
Prabowo menegaskan dukungan penuh pemerintah terhadap inisiatif tersebut, termasuk alokasi anggaran khusus dalam APBN 2026 untuk pengembangan olahraga tradisional. Ia menutup pidatonya dengan harapan bahwa pencak silat dapat menjadi simbol persatuan yang menginspirasi bangsa Indonesia dalam menghadapi tantangan modern.
Dengan menekankan nilai‑nilai kebudayaan yang terkandung dalam pencak silat, Prabowo Subianto mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk menjaga, melestarikan, dan mengembangkan seni bela diri ini sebagai bagian integral dari identitas nasional Indonesia.


Komentar