Ekonomi
Beranda » Berita » Menteri Pertanian Dukung Substitusi Nafta dari CPO, Bahan Baku Plastik Dijamin Cukup

Menteri Pertanian Dukung Substitusi Nafta dari CPO, Bahan Baku Plastik Dijamin Cukup

Menteri Pertanian Dukung Substitusi Nafta dari CPO, Bahan Baku Plastik Dijamin Cukup
Menteri Pertanian Dukung Substitusi Nafta dari CPO, Bahan Baku Plastik Dijamin Cukup

Media Pendidikan – 16 April 2026 | Jakarta, 15 April 2026Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan kesiapan bahan baku dalam negeri untuk mendukung produksi substitusi nafta berbasis minyak kelapa sawit (CPO) guna memenuhi kebutuhan industri plastik. Pernyataan tersebut disampaikan dalam rapat kerja dengan Komisi VI DPR di Kompleks Parlemen Senayan serta dalam kunjungan ke kantor Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan.

Amran menyampaikan bahwa pasokan CPO domestik dapat dialokasikan untuk produksi bahan baku plastik tanpa mengganggu ekspor. Ia menambahkan, “Ya, gak masalah produksi substitusi nafta dari CPO. Bahan baku kita cukup. Lebih dari cukup. Ekspor kita 32 juta ton. Kita tarik (porsi ekspor) mau butuh berapa juta ton untuk plastik.” Pernyataan ini menegaskan bahwa pemerintah dapat mengalihkan sebagian ekspor CPO yang diproyeksikan mencapai 32 juta ton pada tahun 2025 untuk keperluan domestik.

Baca juga:

Pengalihan tersebut diharapkan tidak menimbulkan dampak pada sektor pangan maupun ekologi. Amran menekankan bahwa ekspansi perkebunan kelapa sawit akan difokuskan pada lahan marginal yang tidak produktif atau gundul, bukan pada hutan yang masih lestari. “Kita prioritaskan tanah yang gundul. Yang tidak berhutan, supaya justru menguntungkan kehutanan. Kita prioritaskan yang marginal daerah yang gundul,” ujarnya.

Sebelumnya, Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza mengungkapkan bahwa pelaku industri tengah meneliti opsi substitusi nafta tidak hanya dari CPO, melainkan juga dari LPG dan kondensat. Menurutnya, gas tersebut dapat diolah menjadi bahan plastik seperti polyethylene, polypropylene, serta olefin. Faisol mencatat bahwa sejumlah perusahaan sudah mulai meningkatkan pemakaian LPG sebagai bahan baku, dan pemerintah terus memantau perkembangan ini untuk memastikan keberlanjutan industri.

Baca juga:

Data produksi CPO menunjukkan bahwa Indonesia tetap menjadi produsen kelapa sawit terbesar dunia, dengan produksi mencapai lebih dari 80 juta ton per tahun. Dari total tersebut, sekitar 40% diproses menjadi CPO, sementara sisanya berupa produk turunan lainnya. Dengan target ekspor 32 juta ton pada 2025, pemerintah memperkirakan ada ruang signifikan untuk mengalihkan sebagian produksi ke industri petrokimia domestik.

Keputusan ini selaras dengan strategi pemerintah untuk mengurangi ketergantungan pada bahan baku fosil impor, serta menambah nilai tambah pada sektor agribisnis. Substitusi nafta dari CPO diharapkan dapat menurunkan biaya produksi plastik, meningkatkan daya saing industri dalam negeri, dan memberikan dampak positif pada neraca perdagangan.

Baca juga:

Para pengamat menilai langkah ini dapat membuka peluang investasi baru di bidang petrokimia berbasis bio, namun juga menuntut kepatuhan terhadap standar lingkungan. Penekanan pada penggunaan lahan marginal menjadi kunci untuk menghindari deforestasi dan memastikan keberlanjutan produksi kelapa sawit.

Dengan dukungan kebijakan dari Kementerian Pertanian dan Perindustrian, proses penelitian dan pengembangan teknologi konversi CPO menjadi bahan baku plastik diperkirakan akan semakin cepat. Pemerintah berkomitmen untuk memfasilitasi sinergi antara sektor pertanian dan industri, sehingga Indonesia dapat memanfaatkan potensi bahan baku melimpahnya secara optimal.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *