Media Pendidikan – 11 April 2026 | Jakarta, 10 April 2026 – Pada hari Rabu, Luhut Binsar Pandjaitan selaku Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Indonesia menyampaikan pidato penting dalam acara Multilateral Business Dialogue yang digelar di ibu kota. Fokus utama pertemuan tersebut adalah peningkatan penggunaan mata uang lokal, khususnya rupiah, dalam transaksi perdagangan dan investasi lintas negara.
Tujuan Dialog Bisnis Multilateral
Dialog ini dihadiri oleh perwakilan pemerintah, pelaku industri, serta delegasi asing, termasuk pejabat senior dari Tiongkok. Tujuan utama adalah menciptakan ekosistem keuangan yang lebih efisien, mengurangi ketergantungan pada dolar AS, serta memperkuat likuiditas pasar keuangan Indonesia di tengah dinamika ekonomi global.
Pernyataan Luhut Binsar Pandjaitan
Dalam sambutannya, Luhut menekankan bahwa penggunaan rupiah dalam perdagangan bilateral dan multilateral dapat menurunkan biaya konversi mata uang, mempercepat aliran modal, serta meningkatkan daya saing produk Indonesia. Ia menambahkan, “Kerjasama keuangan Indonesia‑Tiongkok menjadi contoh konkret bagaimana sinergi regional dapat memperkuat likuiditas dan memberikan rasa aman bagi investor di tengah gejolak eksternal.”
Luhut juga menyoroti bahwa langkah ini sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk mengembangkan pasar uang domestik, memperluas jaringan perbankan syariah, serta memperkuat infrastruktur pembayaran digital berbasis rupiah.
Peran Indonesia‑China dalam Mempercepat Transaksi Rupiah
Delegasi Tiongkok menegaskan komitmen mereka untuk meningkatkan penggunaan mata uang lokal dalam proyek infrastruktur dan perdagangan komoditas. Mereka menyebutkan bahwa sejumlah bank sentral telah menandatangani perjanjian swap mata uang yang memungkinkan perusahaan kedua negara melakukan pembayaran tanpa harus melewati dolar.
Kerjasama tersebut diharapkan dapat menurunkan biaya transaksi hingga 15 persen, mempercepat penyelesaian pembayaran, dan meningkatkan transparansi dalam rantai pasok. Luhut mencatat, “Dengan likuiditas yang lebih kuat, Indonesia dapat menahan tekanan eksternal, terutama yang berasal dari fluktuasi nilai tukar dan kebijakan moneter global.”
Implikasi bagi Perekonomian Nasional
Para ekonom menilai bahwa upaya memperluas penggunaan rupiah dapat mendukung target pertumbuhan GDP sebesar 5,5 % pada tahun 2026. Selain itu, peningkatan transaksi dalam mata uang lokal dapat memperkaya cadangan devisa, mengurangi beban pembayaran utang luar negeri, dan memperkuat posisi tawar Indonesia dalam negosiasi perdagangan internasional.
Penguatan likuiditas juga dianggap penting untuk menstabilkan pasar modal, terutama bagi perusahaan kecil dan menengah (UKM) yang seringkali terkendala oleh akses pembiayaan. Dengan sistem pembayaran berbasis rupiah yang lebih terintegrasi, UKM berpotensi mengakses kredit dengan suku bunga yang lebih kompetitif.
Langkah Selanjutnya
Setelah dialog, pihak penyelenggara berjanji akan menyusun roadmap tiga tahun ke depan yang mencakup: (1) pengembangan platform pembayaran digital nasional, (2) ekspansi jaringan bank koresponden dalam mata uang rupiah, dan (3) pelatihan bagi pelaku usaha mengenai manfaat transaksi dalam mata uang lokal.
Rencana tersebut akan diawasi oleh DEN bersama Bank Indonesia dan Kementerian Perdagangan, dengan evaluasi tahunan untuk mengukur dampak ekonomi dan keuangan.
Dengan komitmen bersama antara pemerintah, sektor swasta, dan mitra internasional, Dialog Bisnis Multilateral ini diharapkan menjadi batu loncatan bagi Indonesia dalam mengukuhkan posisi rupiah sebagai mata uang pilihan dalam perdagangan regional.


Komentar