Media Pendidikan – 16 April 2026 | Bandung, 15 April 2026 – Aktivis lingkungan Farhan menyoroti penumpukan sampah di sungai-sungai kota sebagai penyebab utama terjadinya banjir yang kerap melanda wilayah Bandung. Ia menekankan bahwa kebersihan aliran air harus menjadi prioritas bersama demi mengurangi risiko limpahan air pada musim hujan.
Dalam pernyataannya, Farhan menegaskan, “Sampah yang menumpuk di sungai menjadi faktor utama pemicu banjir,” dan menambahkan bahwa perilaku masyarakat yang masih membuang limbah sembarangan memperparah kondisi aliran air. Menurutnya, solusi jangka panjang tidak hanya terletak pada penanggulangan darurat, melainkan pada upaya memperbaiki kondisi fisik sungai secara menyeluruh.
Pemerintah Kota Bandung menanggapi kekhawatiran tersebut dengan merencanakan program revitalisasi sungai secara komprehensif. Rencana ini mencakup pembersihan sampah, pengerukan, dan penataan kembali tepi sungai untuk meningkatkan kapasitas aliran. Program tersebut diharapkan dapat mengurangi frekuensi dan intensitas banjir di wilayah perkotaan, khususnya pada daerah-daerah rawan seperti Dago, Lembang, dan Ciroyom.
Revitalisasi yang dijadwalkan akan dilaksanakan secara bertahap, dimulai dari sungai-sungai utama yang memiliki dampak signifikan terhadap aliran air, antara lain Sungai Cikapundung dan Sungai Cisangkuy. Pemerintah kota menargetkan penyelesaian tahap pertama dalam kurun waktu satu tahun, dengan alokasi anggaran yang mencakup pembelian peralatan pembersihan dan tenaga kerja profesional.
Data yang dihimpun oleh Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung menunjukkan bahwa selama tiga tahun terakhir, volume sampah yang terdeteksi di sungai-sungai utama meningkat sekitar 25 persen, seiring dengan pertumbuhan penduduk dan urbanisasi. Peningkatan tersebut berbanding lurus dengan frekuensi kejadian banjir, yang terjadi rata-rata tiga kali dalam setahun, menimbulkan kerugian material dan mengganggu aktivitas warga.
Farhan menilai bahwa selain intervensi fisik, edukasi publik menjadi elemen krusial. Ia mengusulkan program kampanye kebersihan yang melibatkan sekolah, komunitas, dan pelaku usaha lokal, guna menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga kebersihan aliran sungai. “Jika masyarakat memahami dampak langsung sampah terhadap banjir, mereka akan lebih bertanggung jawab dalam membuang limbah,” ujarnya.
Pemerintah kota juga berencana mengintegrasikan sistem pemantauan kualitas air dan volume sampah menggunakan teknologi sensor, yang akan membantu otoritas dalam mengambil keputusan cepat saat kondisi kritis muncul. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan responsibilitas serta efektivitas penanganan banjir.
Dengan sinergi antara upaya pemerintah dan partisipasi aktif masyarakat, diharapkan Bandung dapat mengurangi ancaman banjir yang selama ini mengganggu kehidupan sehari-hari. Revitalisasi sungai menjadi langkah strategis yang tidak hanya memperbaiki kondisi fisik aliran, tetapi juga menjadi simbol komitmen bersama untuk menciptakan kota yang lebih bersih, aman, dan berkelanjutan.


Komentar