Internasional
Beranda » Berita » Pengamat Timur Tengah: Trump Targetkan Selat Hormuz sebagai Center of Gravity Iran

Pengamat Timur Tengah: Trump Targetkan Selat Hormuz sebagai Center of Gravity Iran

Pengamat Timur Tengah: Trump Targetkan Selat Hormuz sebagai Center of Gravity Iran
Pengamat Timur Tengah: Trump Targetkan Selat Hormuz sebagai Center of Gravity Iran

Media Pendidikan – 01 Mei 2026 | Tabrani Syabirin, pakar urusan Timur Tengah, menyatakan bahwa kebijakan luar negeri Amerika Serikat di era kepemimpinan Donald J. Trump menitikberatkan pada penguasaan titik-titik strategis yang dapat menjadi “center of gravity” (pusat gravitasi) bagi lawan geopolitik, khususnya Iran. Menurutnya, Selat Hormuz menjadi fokus utama dalam rangka menekan posisi strategis Tehran.

Dalam pernyataannya, Syabirin menegaskan, “Trump mengincar Selat Hormuz sebagai center of gravity Iran,” menambahkan bahwa langkah ini mencerminkan pendekatan militer dan diplomatik yang menitikberatkan pada kontrol jalur laut penting. Ia menyoroti bahwa Selat Hormuz, yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia, berperan sebagai jalur utama pengiriman minyak dunia, sehingga menguasainya dapat memberikan tekanan signifikan terhadap ekonomi Iran.

Baca juga:

Strategi Center of Gravity

Konsep “center of gravity” dalam doktrin militer mengidentifikasi elemen kritis yang menjadi sumber kekuatan utama suatu negara. Syabirin menguraikan bahwa Amerika Serikat berusaha mengidentifikasi dan mengendalikan elemen tersebut untuk melemahkan kemampuan Iran dalam melancarkan operasi regional. Selat Hormuz, dengan posisinya yang strategis, dianggap sebagai salah satu titik lemah yang dapat dimanfaatkan untuk menurunkan daya tawar Iran di kancah internasional.

Pengamat tersebut juga menyoroti bahwa pendekatan ini tidak hanya bersifat militer, melainkan melibatkan tekanan ekonomi melalui sanksi dan diplomasi. Dengan menargetkan Selat Hormuz, Washington berharap dapat memaksa Iran untuk mengubah kebijakan nuklir dan perilaku regionalnya tanpa harus melibatkan konflik berskala besar.

Baca juga:

Selain itu, Syabirin mencatat bahwa kebijakan ini sejalan dengan upaya Amerika Serikat untuk memperkuat aliansi dengan negara-negara Teluk, khususnya Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, yang memiliki kepentingan langsung dalam menjaga keamanan jalur laut tersebut. Kerjasama ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan pemantauan dan penegakan hukum di perairan Selat Hormuz.

Meski demikian, pengamat menambahkan bahwa strategi ini mengandung risiko eskalasi. “Jika Iran menanggapi dengan aksi militer di wilayah tersebut, potensi konflik dapat meluas dan mengganggu stabilitas energi global,” ujar Syabirin. Ia menekankan pentingnya adanya mekanisme diplomatik untuk meredam ketegangan sambil tetap menjaga tekanan strategis.

Baca juga:

Sejauh ini, belum ada tindakan militer konkret yang diumumkan oleh pemerintahan Trump terkait pengamanan Selat Hormuz, namun pernyataan tersebut mencerminkan arah kebijakan yang lebih tegas terhadap Tehran. Pemerintah Iran sendiri belum memberikan komentar resmi terhadap pernyataan tersebut.

Pengamat menutup dengan menegaskan bahwa keberhasilan strategi ini akan sangat bergantung pada koordinasi internasional dan kemampuan Amerika Serikat dalam menyeimbangkan antara tekanan dan dialog. Jika berhasil, kontrol atas Selat Hormuz dapat menjadi titik balik dalam dinamika hubungan AS‑Iran di wilayah Timur Tengah.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *