Media Pendidikan – 04 April 2026 | Holding industri pertambangan terkemuka di Indonesia, MIND ID, meluncurkan film dokumenter berjudul The MIND Journey: For Indonesia and the World. Film ini menjadi catatan visual selama 53 hari tanpa pulang, ketika dua tokoh utama, Ari Sihasale dan Nia Sihasale Zulkarnaen, menelusuri ribuan kilometer tanah air untuk menelusuri jejak tambang serta dinamika sosial‑ekonomi di sekitarnya.
Sejak berdiri, MIND ID telah mengukir reputasi sebagai pelopor dalam pengelolaan sumber daya mineral secara berkelanjutan. Keputusan untuk mengabadikan proses penelusuran lewat film dokumenter merupakan langkah strategis yang menegaskan komitmen perusahaan terhadap transparansi, edukasi publik, dan promosi citra positif industri pertambangan Indonesia di mata dunia.
Ari Sihasale, seorang eksekutif senior di MIND ID, berperan ganda sebagai produser sekaligus narator utama. Bersama istri dan rekan kreatifnya, Nia Sihasale Zulkarnaen, keduanya merancang alur perjalanan yang tidak hanya menyoroti nilai ekonomi tambang, melainkan juga menelusuri dampak lingkungan dan kehidupan masyarakat sekitar. Kedua tokoh ini berkomitmen menampilkan sisi manusiawi di balik operasi tambang yang sering kali terlewatkan oleh media mainstream.
Petualangan dimulai pada awal bulan Mei, ketika duo ini meninggalkan Jakarta tanpa rencana kembali selama lebih dari tujuh pekan. Menggunakan kendaraan lapis baja yang dilengkapi peralatan rekaman kelas dunia, mereka menembus pulau-pulau utama termasuk Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Setiap pemberhentian dipilih secara strategis, mulai dari tambang nikel di Morowali, tambang batu bara di Kalimantan Selatan, hingga tambang tembaga di Papua Barat.
Di setiap lokasi, tim produksi tidak hanya merekam proses ekstraksi, melainkan juga melakukan dialog intensif dengan pekerja tambang, pemimpin desa, LSM lingkungan, serta pejabat pemerintah daerah. Wawancara tersebut mengungkapkan realitas beragam: ada harapan akan peningkatan pendapatan, sekaligus kekhawatiran akan degradasi hutan, pencemaran air, dan perubahan budaya tradisional.
Film ini menonjolkan tiga tema utama. Pertama, aspek ekonomi: MIND ID menampilkan data produksi, investasi, serta kontribusi sektor pertambangan terhadap PDB nasional. Kedua, dimensi lingkungan: dokumenter menyoroti upaya reklamasi, penggunaan teknologi bersih, serta tantangan dalam menyeimbangkan eksploitasi sumber daya dengan pelestarian ekosistem. Ketiga, perspektif sosial: cerita-cerita pribadi para pekerja, perempuan di sekitar tambang, dan generasi muda yang menuntut pendidikan serta peluang kerja yang layak.
Dalam salah satu segmen, Ari Sihasale mengungkapkan, “Kami tidak hanya ingin memperlihatkan hasil tambang, melainkan menampilkan bagaimana setiap batu yang diangkat memengaruhi kehidupan ribuan orang di sekitarnya.” Sementara Nia menambahkan, “Film ini menjadi jendela bagi publik untuk menyaksikan perjuangan, harapan, dan juga tanggung jawab yang harus diemban bersama antara industri, pemerintah, dan masyarakat.”
Secara teknis, proses produksi menghadapi tantangan logistik yang signifikan. Medan berbukit, cuaca tropis, serta akses jalan yang terbatas mengharuskan tim mengandalkan drone, kamera tahan air, serta sumber listrik portabel. Selama 53 hari, lebih dari 200 jam footage terkumpul, yang kemudian disunting menjadi narasi sinematik berdurasi 90 menit.
Setelah selesai, film dokumenter ini dijadwalkan tayang secara nasional pada akhir Juli melalui jaringan televisi publik dan platform streaming lokal. Selain menargetkan penonton umum, MIND ID berencana menggelar serangkaian workshop edukatif di universitas dan sekolah menengah kejuruan, guna memanfaatkan materi film sebagai sumber belajar tentang pertambangan berkelanjutan.
Pengamat industri menilai bahwa inisiatif ini dapat menjadi katalisator perubahan persepsi publik terhadap pertambangan. Dengan menampilkan fakta yang terverifikasi serta kisah manusia yang autentik, film ini diharapkan mengurangi kesenjangan informasi antara stakeholder, serta mendorong dialog konstruktif tentang kebijakan regulasi, reclamation, dan tanggung jawab sosial perusahaan.
Secara keseluruhan, The MIND Journey: For Indonesia and the World bukan sekadar karya sinema, melainkan dokumen strategis yang menggabungkan data statistik, visual menakjubkan, dan narasi emosional. Keberanian Ari dan Nia menempuh 53 hari tanpa pulang menjadi simbol dedikasi industri pertambangan Indonesia dalam menapaki jalur transparansi dan keberlanjutan. Film ini diharapkan menjadi referensi penting bagi pembuat kebijakan, akademisi, serta generasi muda yang ingin memahami peran strategis tambang dalam pembangunan bangsa.


Komentar