Media Pendidikan – 27 April 2026 | Jakarta, 26 April 2026 – Dokter spesialis kulit, dr. Hanny Nilasari, Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (Perdoski), menegaskan bahwa penggunaan sunscreen menjadi keharusan ketika suhu meningkat dan UV Index tinggi. Dalam wawancara dengan Pro3 RRI, ia menjelaskan cara pakai yang tepat serta langkah pencegahan lain untuk menjaga kesehatan kulit.
Ia menambahkan bahwa jenis kulit berpengaruh pada tingkat risiko. Individu dengan kulit berminyak atau sensitif lebih rentan mengalami reaksi berlebih terhadap paparan sinar. Kulit sensitif biasanya memiliki pori-pori lebih besar akibat aktivitas kelenjar sebum yang tinggi, sehingga mudah teriritasi oleh bahan kimia pada sabun atau produk perawatan yang tidak cocok.
Untuk mengoptimalkan perlindungan, dr. Nilasari menyarankan kombinasi perawatan dasar: mencuci muka dua hingga tiga kali sehari dengan pembersih yang lembut, serta menghindari paparan langsung matahari antara pukul 10.00 hingga 16.00, saat intensitas UV mencapai puncaknya. “Masyarakat yang sering beraktivitas di luar ruangan atau ‘berjemur’ diingatkan untuk menghindari paparan langsung di atas pukul 10.00 pagi,” ia menegaskan.
Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa pada hari-hari dengan suhu mencapai 35°C–38°C, nilai UV Index dapat melonjak di atas 8, masuk dalam kategori sangat berbahaya. Pada kondisi tersebut, penggunaan sunscreen dengan SPF 30 atau lebih dianggap cukup, asalkan diulang secara berkala.
Selain sunscreen, dr. Nilasari menekankan pentingnya hidrasi kulit. Mengonsumsi cukup air putih membantu mempertahankan kelembapan epidermis, sehingga kulit tidak mudah kering dan terkelupas setelah terpapar sinar. Ia juga menyarankan pemilihan sunscreen berbahan fisik (mengandung zinc oxide atau titanium dioxide) bagi mereka yang memiliki kulit sensitif, karena cenderung menimbulkan iritasi lebih sedikit dibandingkan formula kimia.
Dengan memahami karakteristik kulit masing‑masing dan menerapkan rutinitas perawatan yang konsisten, masyarakat diharapkan dapat meminimalkan dampak negatif sinar UV, terutama di musim panas yang semakin ekstrem. Upaya preventif ini tidak hanya melindungi penampilan, tetapi juga mengurangi beban penyakit kulit di masa depan.


Komentar