Media Pendidikan – 05 Juli 2026 | Minuman berbahan rempah seperti wedang jahe, teh jahe, susu jahe, dan jamu tradisional hampir selalu menggunakan jahe sebagai bahan utama. Tapi, sebenarnya kenapa harus jahe? Rasanya seperti jahe sudah menjadi ‘obat andalan’ sejak dulu.
Hal pertama yang langsung terasa setelah minum jahe tentu sensasi hangatnya. Itulah yang membuat banyak orang merasa lebih nyaman, terutama saat hujan atau tubuh sedang kurang fit. Rasa hangat ini bukan cuma karena minumannya disajikan panas. Jahe memang punya kandungan alami yang memberi sensasi hangat di tubuh.
Jahe termasuk rempah yang fleksibel. Mau dicampur madu, serai, kayu manis, lemon, bahkan susu sekalipun tetap cocok. Mungkin itu juga alasan kenapa jahe hampir selalu muncul dalam berbagai minuman berbahan rempah. Selain aromanya khas, rasanya juga tidak terlalu tajam sehingga mudah diterima banyak orang.
Banyak yang mengira minuman jahe baru populer belakangan karena tren hidup sehat. Padahal, jauh sebelum ada ginger shot atau teh herbal kemasan, masyarakat Indonesia sudah lebih dulu mengenal wedang jahe dan jamu. Bedanya, sekarang jahe dikemas dengan tampilan yang lebih modern sehingga lebih diminati berbagai kalangan, terutama anak muda.
Jahe mungkin terlihat sederhana. Harganya terjangkau, mudah ditemukan di pasar, bahkan sering tersedia di dapur rumah. Namun, di balik kesederhanaannya, rempah ini punya perjalanan panjang. Dari resep tradisional yang diwariskan turun-temurun hingga menjadi bahan minuman modern yang banyak digemari, jahe membuktikan bahwa sesuatu yang sederhana bisa tetap relevan di berbagai zaman.
Sebenarnya, jahe memiliki manfaat yang lebih dari sekadar memberikan rasa hangat. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa jahe mengandung senyawa alami yang berpotensi memberikan manfaat bagi tubuh, seperti membantu meredakan mual, memberikan efek hangat, dan memiliki sifat antioksidan. Namun, manfaat tersebut bukan berarti jahe bisa menggantikan obat dari dokter.


Komentar