Media Pendidikan – 26 April 2026 | Kyoto, 20 April 2026 – Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) menyelenggarakan Peace Dialogue di Kuil Mii-dera Temple, Jepang, sebagai respons terhadap meningkatnya kompleksitas teknologi dan ketegangan geopolitik yang mengancam masa depan kemanusiaan. Acara yang dihadiri delegasi Indonesia, akademisi Jepang, tokoh organisasi sosial, serta perwakilan pelajar Indonesia ini menyoroti perlunya pendekatan spiritual dalam menenangkan krisis global.
Dalam sambutan pembuka, Ketua Umum LPOI Said Aqil Siroj menekankan bahwa dunia kini berada pada “babak baru dengan berbagai kemajuan, dinamika, dan kompleksitasnya”. Ia menambahkan, “Kompetisi global dan konflik kepentingan antar blok peradaban telah memicu peperangan yang merugikan masa depan kemanusiaan serta perdamaian.” Menurut Siroj, solusi tidak hanya terletak pada teknologi, melainkan pada “rekalibrasi spiritual” yang dapat menata kembali arah peradaban dunia.
Acara tersebut juga menjadi momen penandatanganan kerja sama strategis antara LPOI dan Tenma Hospital Group. Kesepakatan mencakup pengembangan rumah sakit berstandar internasional, riset sel punca (stem cell), serta layanan kesehatan yang mengintegrasikan pendekatan spiritual dan natural medicine. Dengan dukungan Tenma Hospital, diharapkan tercipta pusat inovasi kesehatan yang menyeimbangkan ilmu kedokteran modern dengan nilai‑nilai spiritualitas.
Imam Pituduh, Sekretaris Jenderal LPOI, menjelaskan bahwa konsep “Spiritual and Natural Lifestyle” bukan sekadar teori, melainkan praktik yang telah tumbuh dalam kehidupan masyarakat Asia. “Pendekatan ini bukan sekadar teori, tetapi telah tumbuh dalam praktik kehidupan masyarakat Asia, terutama pada sektor kesehatan melalui spiritual and natural medicine serta pertanian melalui spiritual and natural farming,” ujarnya. Ia menekankan bahwa isu pangan dan kesehatan merupakan pilar utama untuk menjaga kemanusiaan dan perdamaian dunia, sehingga diperlukan solusi holistik yang berkelanjutan.
Founder Sakuranesia, Tovic Rustam, menambahkan bahwa dialog ini merupakan langkah awal membangun kesadaran global dari Jepang. “Kami berkomitmen mendukung upaya kemanusiaan dan perdamaian dunia. Kolaborasi dengan LPOI dan para tokoh agama menjadi pintu masuk untuk membumikan nilai‑nilai kebaikan,” kata Rustam. Kehadiran akademisi Jepang dan perwakilan pelajar Indonesia menegaskan bahwa forum ini menjadi jembatan lintas peradaban yang potensial mengurangi konflik kepentingan.
Penutup acara menegaskan harapan LPOI bahwa Peace Dialogue dapat menjadi titik tolak penguatan kerja sama lintas negara dalam membangun perdamaian. Dengan mengedepankan nilai spiritualitas dan keseimbangan alam, LPOI berharap dunia dapat mengatasi tantangan teknologi dan geopolitik yang semakin rumit, serta menciptakan masa depan yang lebih adil dan berkelanjutan.


Komentar