Gaya Hidup
Beranda » Berita » Tak Sembarang Bisa Pakai Sorban: Ustaz Maulana Ungkap Makna Sorban, Lipatan dan Warnanya

Tak Sembarang Bisa Pakai Sorban: Ustaz Maulana Ungkap Makna Sorban, Lipatan dan Warnanya

Tak Sembarang Bisa Pakai Sorban: Ustaz Maulana Ungkap Makna Sorban, Lipatan dan Warnanya
Tak Sembarang Bisa Pakai Sorban: Ustaz Maulana Ungkap Makna Sorban, Lipatan dan Warnanya

Media Pendidikan – 29 April 2026 | Ustaz Maulana mengungkap dalam sebuah wawancara bahwa sorban (imamah) tidak dapat dipakai secara sembarangan karena memiliki makna simbolis terkait ilmu, status, dan identitas dalam Islam. Penjelasan tersebut dipublikasikan oleh Viva.co.id pada tanggal 2024, menambah pemahaman umat terhadap pakaian keagamaan.

Makna Lipatan dan Warna Sorban

“Sorban bukan sekadar aksesoris, melainkan simbol ilmu dan kedudukan dalam Islam,” tegas sang ustaz dalam kutipan langsung. Pernyataan ini menegaskan bahwa sorban memiliki fungsi lebih dari sekadar penutup kepala, melainkan sarana komunikasi visual yang menghormati tradisi keilmuan.

Baca juga:

Ustaz Maulana menambahkan bahwa pemilihan sorban harus mempertimbangkan konteks acara atau lembaga. Misalnya, pada pertemuan resmi atau majelis ilmiah, sorban dengan lipatan lebih banyak dan warna gelap biasanya dipilih untuk menonjolkan otoritas akademik. Sebaliknya, dalam kegiatan sosial atau dakwah, sorban dengan warna cerah dan lipatan lebih sederhana dipakai untuk menciptakan suasana yang lebih akrab.

Penjelasan ini juga menyingkap alasan mengapa tidak semua orang bebas mengadopsi sorban secara bebas. Penggunaan yang tidak tepat dapat menimbulkan kesan kurang hormat atau bahkan menyinggung nilai-nilai tradisional yang telah dijaga selama berabad-abad. Oleh karena itu, Ustaz Maulana menekankan pentingnya edukasi dan pemahaman sebelum memutuskan mengenakan sorban.

Baca juga:

Data dari lembaga keagamaan menunjukkan bahwa lebih dari 70 persen komunitas Muslim di Indonesia mengenal adanya perbedaan warna sorban, namun hanya sekitar 30 persen yang memahami arti lipatannya secara mendalam. Hal ini mencerminkan kebutuhan akan penyuluhan lebih lanjut mengenai simbolisme sorban dalam kehidupan sehari-hari.

Ustaz Maulana juga mengingatkan bahwa sorban bukan sekadar atribut fisik, melainkan harus didukung oleh pengetahuan yang seimbang. “Ilmu yang mendasari sorban harus menjadi landasan moral dan akhlak, bukan sekadar status visual,” ujarnya.

Baca juga:

Dengan mengedepankan edukasi tentang makna sorban, diharapkan generasi muda dapat menghargai tradisi sekaligus menghindari penyalahgunaan simbol keagamaan. Upaya ini sejalan dengan tujuan memperkuat identitas Islam yang inklusif dan berlandaskan pada ilmu pengetahuan.

Kesimpulannya, sorban memegang peranan penting sebagai simbol ilmu, status, dan identitas dalam Islam. Penggunaan yang tepat memerlukan pemahaman mendalam tentang lipatan dan warna, sebagaimana diungkapkan oleh Ustaz Maulana. Pembaca diharapkan dapat menilai kembali cara berpenampilan dengan sorban, menjadikan pakaian tersebut sebagai cerminan integritas keagamaan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *