Media Pendidikan – 26 April 2026 | Purwokerto, 26 April 2026 – Pada Sabtu (25/4), Puhua Trilingual School di Jawa Tengah menjadi tuan rumah forum pendidikan bahasa Mandarin yang dihadiri lebih dari 200 kepala sekolah, guru, dan pejabat pendidikan dari lebih dari 30 sekolah trilingual di seluruh Indonesia. Acara ini sekaligus memperingati ulang tahun ke-120 Purwokerto Chinese School serta ulang tahun ke-20 Puhua Trilingual School.
Forum yang berlangsung selama satu hari itu menyoroti peran strategis pendidikan multibahasa dalam membangun jembatan budaya di wilayah yang kaya akan keragaman bahasa. Lebih dari 200 kepala sekolah, guru, dan pejabat pendidikan dari lebih dari 30 sekolah trilingual di Indonesia berkumpul di Puhua Trilingual School, Central Java, untuk membahas tantangan dan peluang dalam mengajar bahasa Mandarin sebagai bahasa ketiga.
“More than 200 principals, teachers and education officials from over 30 trilingual schools across Indonesia gathered at Puhua Trilingual School in Central Java on Saturday for a forum on Chinese-language education,” demikian laporan Xinhua menuliskan bahwa kehadiran tersebut mencerminkan komitmen luas terhadap penguatan bahasa Mandarin di tingkat sekolah.
Acara dibuka oleh Kepala Puhua Trilingual School, Li Ming, yang menekankan pentingnya integrasi tiga bahasa—Indonesia, Jawa, dan Mandarin—dalam kurikulum. Ia menambahkan bahwa perayaan 20 tahun berdirinya Puhua Trilingual School menjadi momentum untuk mengevaluasi capaian dan merencanakan inovasi pembelajaran yang lebih interaktif. Selama sesi panel, para peserta berbagi pengalaman praktis, seperti penggunaan materi digital berbahasa Mandarin, pelatihan guru intensif, serta kerjasama dengan institusi pendidikan di Tiongkok.
Data yang disajikan dalam forum menunjukkan peningkatan signifikan jumlah siswa yang belajar bahasa Mandarin di sekolah trilingual. Pada tahun 2020, terdapat sekitar 12.000 siswa terdaftar, sementara pada 2025 angka tersebut melaju menjadi hampir 20.000 siswa. Selain itu, 85% sekolah yang berpartisipasi melaporkan peningkatan kemampuan bahasa Mandarin siswa setelah dua tahun program terstruktur.
Dalam sesi tanya jawab, seorang kepala sekolah dari Sulawesi Selatan menyoroti kebutuhan dukungan lebih besar dari pemerintah daerah untuk fasilitas belajar, seperti laboratorium bahasa dan perpustakaan berbahasa Mandarin. Menanggapi hal ini, perwakilan Kementerian Pendidikan menegaskan komitmen untuk memperluas beasiswa bagi guru bahasa Mandarin serta meningkatkan alokasi anggaran bagi sekolah trilingual.
Forum berakhir dengan penandatanganan nota kesepahaman antara Puhua Trilingual School dengan tiga sekolah terpilih di Sumatra, Kalimantan, dan Papua, yang akan meluncurkan program pertukaran siswa dan guru selama tiga tahun ke depan. Kesepakatan ini diharapkan dapat memperkuat jaringan kolaboratif antar sekolah trilingual serta menumbuhkan pemahaman lintas budaya yang lebih mendalam.
Dengan menandai dua peringatan penting sekaligus, Puhua Trilingual School menunjukkan bahwa pendidikan bahasa tidak hanya berada di dalam kelas, melainkan menjadi jembatan yang menghubungkan generasi muda Indonesia dengan dunia global. Keberhasilan forum ini diharapkan menjadi contoh bagi sekolah lain dalam mengintegrasikan bahasa Mandarin secara efektif, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai negara multibahasa yang siap bersaing di era internasional.


Komentar