Sains & Teknologi
Beranda » Berita » Risiko Penggunaan Ikan Sapu-Sapu sebagai Pupuk Bisa Masuk ke Rantai Makanan, Peringatkan Pakar

Risiko Penggunaan Ikan Sapu-Sapu sebagai Pupuk Bisa Masuk ke Rantai Makanan, Peringatkan Pakar

Risiko Penggunaan Ikan Sapu-Sapu sebagai Pupuk Bisa Masuk ke Rantai Makanan, Peringatkan Pakar
Risiko Penggunaan Ikan Sapu-Sapu sebagai Pupuk Bisa Masuk ke Rantai Makanan, Peringatkan Pakar

Media Pendidikan – 23 April 2026 | Populasi ikan sapu-sapu (Pangasius sp.) di Sungai Ciliwung kini menjadi sorotan utama setelah laporan menunjukkan peningkatan angka penangkapan dan penimbunan di sepanjang aliran sungai. Para ahli lingkungan menilai bahwa memanfaatkan ikan tersebut sebagai pupuk organik berpotensi menimbulkan bahaya baru bagi keamanan pangan karena zat berbahaya dapat kembali masuk ke rantai makanan.

Pengamatan di Ciliwung

Data lapangan yang dikumpulkan pada awal tahun ini mencatat keberadaan ribuan ekor ikan sapu-sapu dalam satu kilometer persegi daerah tengah Sungai Ciliwung. Kelebihan populasi ini memunculkan pertanyaan: apakah angka tersebut menandakan ekosistem yang sehat atau justru mengindikasikan masalah kualitas air yang belum terdeteksi?

Baca juga:

Beberapa komunitas nelayan mengusulkan pemanfaatan limbah ikan yang tidak terpakai sebagai pupuk alami bagi lahan pertanian di sekitar wilayah tersebut. Ide tersebut dianggap menarik karena dapat mengurangi biaya pupuk kimia dan memanfaatkan sumber daya lokal.

Peringatan Pakar

Namun, pakar ekologi dari Universitas Indonesia memperingatkan bahwa proses konversi ikan menjadi pupuk tidak serta merta menghilangkan kontaminan yang mungkin terakumulasi di dalam jaringan ikan. “Jika ikan sapu-sapu dijadikan pupuk, risiko bahan pencemar seperti logam berat dan mikroplastik dapat kembali ke rantai makanan melalui tanah dan tanaman,” ujar Dr. Anita Sari, ahli biologi perairan, dalam sebuah wawancara.

Baca juga:

Data Pendukung

  • Survei lingkungan pada 2023 mencatat kadar timbal di air Ciliwung mencapai 0,12 mg/L, melebihi ambang batas WHO sebesar 0,01 mg/L.
  • Analisis laboratorium pada sampel ikan sapu-sapu menunjukkan konsentrasi merkuri sebesar 0,04 ppm, mendekati batas maksimum yang diperbolehkan untuk ikan konsumsi.

Data tersebut memperkuat argumen bahwa penggunaan ikan sebagai pupuk harus melalui proses pengolahan khusus, seperti pembakaran pada suhu tinggi atau komposasi dengan bahan lain yang dapat menetralkan kontaminan.

Langkah Selanjutnya

Pemerintah DKI Jakarta bersama Badan Lingkungan Hidup (BLH) berencana melakukan uji coba pilot pada area pertanian di Kecamatan Cengkareng. Uji coba tersebut akan memantau perubahan kadar logam berat pada tanah dan tanaman selama enam bulan ke depan. Hasilnya diharapkan menjadi acuan kebijakan nasional mengenai pemanfaatan limbah perikanan sebagai pupuk.

Baca juga:

Dengan mengedepankan pendekatan ilmiah, diharapkan potensi manfaat ekonomi dari pemanfaatan ikan sapu-sapu tidak mengorbankan kesehatan masyarakat. Keputusan akhir masih menunggu hasil evaluasi ilmiah yang komprehensif.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *