Daerah
Beranda » Berita » Prasasti Damalung Kembali ke Tanah Air: Mengungkap Sejarah dan Isi Inskripsi Kuno

Prasasti Damalung Kembali ke Tanah Air: Mengungkap Sejarah dan Isi Inskripsi Kuno

Prasasti Damalung Kembali ke Tanah Air: Mengungkap Sejarah dan Isi Inskripsi Kuno
Prasasti Damalung Kembali ke Tanah Air: Mengungkap Sejarah dan Isi Inskripsi Kuno

Media Pendidikan – 08 April 2026 | Setelah menghabiskan hampir dua abad di koleksi museum Belanda, Prasasti Damalung kembali ke Indonesia. Kepulangan batu bersejarah ini tidak hanya menjadi momen simbolis bagi upaya pemulihan warisan budaya, tetapi juga membuka kembali kajian tentang dinamika politik, agama, dan bahasa pada masa awal Nusantara.

Prasasti Damalung ditemukan pada tahun 1817 di daerah Damalung, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Pada masa penemuan, wilayah tersebut masih berada di bawah pengaruh Kesultanan Banten dan menjadi jalur perdagangan penting antara pesisir utara Jawa dengan pedalaman. Batu ini kemudian dibeli oleh kolektor Belanda dan dipindahkan ke Leiden, dimana selama hampir 190 tahun ia menjadi objek studi akademis di Eropa.

Baca juga:

Secara fisik, prasasti ini terbuat dari batu andesit berukuran sekitar 60 cm x 40 cm dengan tinggi 20 cm. Ukiran pada permukaannya menggunakan aksara Pallava yang diadaptasi menjadi aksara Kawi, menandakan adanya pengaruh budaya India pada kerajaan-kerajaan di Pulau Jawa pada abad ke-5 hingga ke-7 Masehi.

Isi tulisan pada Prasasti Damalung terbagi menjadi tiga bagian utama:

  • Pengantar religius: Kalimat pertama menyebutkan pemujaan kepada Dewa Siwa, menegaskan bahwa agama Hindu telah menyebar luas pada masa itu.
  • Pengukuhan perintah kerajaan: Bagian inti berisi perintah raja untuk mendirikan sebuah peringatan (stupa) di daerah tersebut sebagai bentuk syukur atas keberhasilan militer melawan musuh.
  • Penutup dengan tanggal: Tanggal inskripsi dituliskan dalam sistem penanggalan Saka, menyebutkan tahun 657 Saka (sekitar 735 Masehi), yang membantu para sejarawan menempatkan peristiwa ini dalam konteks kronologis yang lebih luas.

Interpretasi para pakar sejarah menunjukkan bahwa Prasasti Damalung kemungkinan besar terkait dengan Kerajaan Tarumanagara, salah satu kerajaan tertua di Jawa Barat yang dikenal melalui Prasasti Ciaruteun dan Prasasti Tugu. Meskipun nama raja tidak disebutkan secara eksplisit, gaya bahasa dan referensi terhadap dewa Siwa sejalan dengan kebijakan keagamaan yang diadopsi oleh raja‑raja Tarumanagara pada masa pemerintahan Raja Purnawarman.

Baca juga:

Kepulangan batu ini disebabkan oleh upaya diplomatik antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Belanda yang dimulai pada awal 2020-an. Negosiasi menekankan pentingnya mengembalikan artefak yang dianggap sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas nasional. Pada akhir 2023, perjanjian resmi ditandatangani, dan pada bulan Januari 2024 Prasasti Damalung dikirim kembali dengan pesawat kargo khusus, ditemani tim konservator dan arkeolog Indonesia.

Sesampainya di Tanah Air, prasasti langsung ditempatkan di Museum Nasional, Jakarta, untuk proses restorasi lanjutan. Tim konservasi menggunakan teknik laser cleaning yang ramah lingkungan untuk menghilangkan kotoran dan korosi tanpa merusak ukiran. Proses ini diperkirakan memakan waktu tiga bulan, dengan harapan batu tersebut dapat dipamerkan kepada publik pada akhir 2024.

Pemulangan Prasasti Damalung memiliki implikasi lebih luas bagi bidang arkeologi Indonesia. Pertama, ia menegaskan kembali pentingnya kolaborasi internasional dalam pelestarian warisan budaya. Kedua, keberadaan kembali artefak ini membuka peluang penelitian baru, terutama dalam kajian aksara Kawi dan penyebaran agama Hindu di Indonesia awal. Ketiga, publikasi hasil restorasi dan interpretasi akan menjadi sumber belajar bagi generasi muda, memperkuat rasa kebanggaan terhadap sejarah bangsa.

Baca juga:

Selain nilai historis, Prasasti Damalung juga menjadi magnet wisata budaya. Pemerintah provinsi Jawa Barat berencana mengembangkan kawasan sekitar lokasi penemuan menjadi situs edukasi, dengan fasilitas museum mini, jalur interpretatif, dan program tur interaktif. Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara, sekaligus mendukung ekonomi lokal.

Secara keseluruhan, kepulangan Prasasti Damalung menandai babak baru dalam upaya pemulihan artefak-artefak yang pernah berada di luar negeri. Dengan mengembalikan batu bersejarah ini, Indonesia tidak hanya memperoleh kembali satu kepingan masa lalu, tetapi juga memperkuat narasi kebangsaan yang berakar pada kejayaan peradaban kuno. Penelitian lanjutan dan penyajian publik yang tepat akan memastikan bahwa nilai sejarah dan budaya yang terkandung dalam prasasti ini dapat dinikmati dan dipelajari oleh generasi mendatang.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *