Media Pendidikan – 25 April 2026 | Surabaya – Pemerintah Kota Surabaya mengumumkan rencana integrasi sistem “Satu Data Satu Peta” berbasis rekam medis elektronik. Inisiatif ini bertujuan memperkuat pemantauan kesehatan masyarakat secara menyeluruh, mulai dari puskesmas hingga rumah sakit di seluruh wilayah kota.
Rencana integrasi tersebut disampaikan dalam sebuah konferensi pers yang dihadiri perwakilan Dinas Kesehatan Surabaya serta tim IT Pemerintah Kota. Menurut pernyataan resmi, “Pemkot Surabaya menyiapkan integrasi ‘Satu Data Satu Peta’ berbasis rekam medis elektronik” untuk memastikan data kesehatan dapat diakses secara real‑time oleh semua pemangku kepentingan.
Dengan menggabungkan data rekam medis elektronik (RME) pada satu platform terpadu, pihak berwenang berharap dapat mengidentifikasi pola penyebaran penyakit lebih cepat, mengoptimalkan alokasi sumber daya medis, serta meningkatkan koordinasi antar fasilitas kesehatan. Sistem ini dirancang agar data yang masuk dari puskesmas, klinik, dan rumah sakit terstandardisasi sehingga memudahkan analisis statistik dan pembuatan kebijakan berbasis bukti.
Secara teknis, integrasi akan memanfaatkan infrastruktur digital milik Pemkot yang sudah ada, termasuk jaringan data kota dan pusat data terpusat. Data yang dikumpulkan mencakup riwayat penyakit, hasil laboratorium, dan catatan kunjungan pasien. Seluruh informasi akan disimpan dalam format yang aman, dengan mekanisme enkripsi serta kontrol akses berbasis peran untuk melindungi kerahasiaan pasien.
Langkah ini selaras dengan kebijakan nasional tentang “Satu Data” yang menekankan pentingnya konsistensi dan interoperabilitas data lintas sektor. Bagi Surabaya, yang merupakan salah satu kota terbesar di Jawa Timur, penerapan sistem ini diharapkan dapat menurunkan angka kematian akibat penyakit menular, mempercepat respons darurat kesehatan, serta meningkatkan kepuasan masyarakat terhadap layanan kesehatan publik.
Pengembangan sistem diperkirakan akan melibatkan pelatihan bagi tenaga medis dalam penggunaan RME, serta sosialisasi kepada masyarakat tentang manfaat dan hak mereka terkait data kesehatan. Pemerintah Kota juga menyiapkan tim monitoring yang akan mengevaluasi kinerja sistem secara berkala, memastikan bahwa data yang dihasilkan akurat dan dapat diandalkan.
Sejauh ini, pilot project di beberapa puskesmas di wilayah Timur Surabaya telah menunjukkan peningkatan efisiensi pencatatan dan akses data. Hasil awal menunjukkan penurunan waktu pencarian rekam medis hingga 40 persen, sekaligus meminimalkan risiko duplikasi data. Dengan memperluas cakupan ke seluruh kota, Pemkot berharap manfaat serupa dapat dirasakan oleh seluruh warga Surabaya.
Implementasi Satu Data Satu Peta Kesehatan ini menjadi bagian penting dalam upaya digitalisasi layanan publik yang lebih luas, termasuk transportasi, pendidikan, dan administrasi. Jika berhasil, model integrasi data kesehatan Surabaya dapat menjadi contoh bagi kota‑kota lain di Indonesia dalam mengoptimalkan penggunaan teknologi digital untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Ke depan, Pemerintah Kota Surabaya berkomitmen untuk terus memperkuat ekosistem digitalnya, mengintegrasikan lebih banyak layanan publik, dan memastikan bahwa data kesehatan menjadi aset strategis bagi perencanaan dan pelaksanaan program kesehatan kota.


Komentar