Media Pendidikan – 06 Mei 2026 | Jakarta, 5 Mei 2026 – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus berada di bawah tekanan akibat ketidakpastian ekonomi global. Pada bulan April 2026, IHSG tercatat turun 1,3 % secara bulanan dan telah kehilangan 19,55 % sejak awal tahun.
Ketidakpastian global, termasuk risiko geopolitik yang masih tinggi, menjadi faktor utama yang menahan pergerakan pasar saham domestik. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Hasan Fawzi, menambahkan, “Pasar saham domestik masih terlihat bergerak dinamis sejalan dengan tingginya ketidakpastian global,” sambil mencatat bahwa volatilitas pasar keuangan internasional masih berlanjut.
Meski demikian, OJK menilai likuiditas pasar tetap kuat. Rata‑rata bid‑ask spread berada pada level 1,33 kali, menandakan selisih harga beli‑jual yang relatif kecil dan mendukung transaksi yang efisien.
Pasar obligasi domestik menunjukkan ketahanan. Indonesia Composite Bond Index (ICBI) menguat, didorong oleh penurunan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) sebesar 3,9 basis poin secara bulanan. Investor non‑residen mencatat pembelian bersih di pasar obligasi hingga Rp 8,8 triliun.
Industri pengelolaan investasi juga mencatat pertumbuhan positif. Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksadana mencapai Rp 711,89 triliun, naik 2,32 % dibandingkan bulan sebelumnya dan 5,41 % sejak Januari. Kenaikan ini dipicu oleh net subscription yang kuat.
Jumlah investor pasar modal terus meningkat, dengan tambahan 1,74 juta investor baru pada April 2026. Total investor kini mencapai 26,49 juta orang, mencerminkan pertumbuhan 30,06 % secara year‑to‑date.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menekankan bahwa stabilitas sektor jasa keuangan nasional tetap terjaga meski ketidakpastian global belum mereda. Ia menuturkan, “Meskipun ada kesepakatan gencatan senjata, penutupan Selat Hormuz masih berlanjut,” menyoroti bahwa konflik geopolitik masih dapat memengaruhi harga minyak dan sentimen pasar.
Secara keseluruhan, OJK menilai pasar modal Indonesia tetap resilien berkat likuiditas yang terjaga dan dukungan dari pasar obligasi serta dana investasi. Pengawasan terus ditingkatkan untuk mengantisipasi dinamika global yang berkembang.


Komentar