Media Pendidikan – 06 Mei 2026 | Bank Indonesia (BI) mengumumkan serangkaian tujuh langkah strategis untuk menjaga stabilitas rupiah menjelang pertengahan 2025. Gubernur BI, Perry Warjiyo, menyampaikan rencana tersebut dalam konferensi pers di Istana Negara pada Rabu (6/5), menekankan bahwa intervensi pasar valuta asing dan pengawasan ketat akan menjadi fokus utama.
Berikut rangkaian langkah yang akan diterapkan:
- Intervensi pasar valas: BI akan melakukan intervensi baik di dalam negeri maupun luar negeri menggunakan instrumen spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta offshore NDF di pusat keuangan global seperti Hong Kong, Singapura, London, dan New York. Perry menegaskan, “Kami terus akan melakukan intervensi untuk menstabilkan rupiah baik di dalam negeri maupun dari luar negeri. Cadangan devisa kami lebih dari cukup.”
- Penguatan aliran masuk modal: Melalui Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), BI berupaya menutup outflow dari pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan saham, sekaligus memperkuat likuiditas pasar modal.
- Pembelian sekuritas di pasar sekunder: Hingga akhir tahun, BI telah membeli sekuritas senilai Rp 123,1 triliun secara year‑to‑date, menambah dukungan pada pasar domestik.
- Pemeliharaan likuiditas perbankan: Pertumbuhan uang primer tercatat 14,1 persen, menandakan kebijakan moneter yang masih longgar untuk mendukung aktivitas kredit.
- Pembatasan pembelian valuta asing: Batas maksimum pembelian dolar per orang per bulan diturunkan dari USD 100.000 menjadi USD 50.000, dan direncanakan kembali menjadi USD 25.000 dengan ketentuan harus ada underlying asset.
- Pengembangan pasar yuan‑rupiah: BI mendorong penggunaan mata uang lokal, termasuk memfasilitasi perdagangan yuan‑rupiah, untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS.
- Pengawasan ketat terhadap pembelian dolar: BI meningkatkan koordinasi dengan OJK untuk memantau perbankan dan korporasi yang memiliki aktivitas pembelian dolar tinggi.
Data pasar menunjukkan nilai tukar rupiah pada Senin pagi melemah 19 poin atau 0,12 persen menjadi Rp15.573 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp15.554. Sementara itu, cadangan devisa BI tetap cukup untuk menahan tekanan eksternal.
Langkah-langkah ini diharapkan dapat menstabilkan nilai tukar, menjaga arus masuk modal, serta mengurangi volatilitas pasar valuta asing. Pengawasan yang lebih ketat terhadap transaksi dolar diharapkan menurunkan spekulasi berlebih dan memperkuat kepercayaan investor terhadap kebijakan moneter Indonesia.
Ke depan, BI akan terus memantau perkembangan ekonomi global dan menyesuaikan kebijakan bila diperlukan, dengan tujuan utama menjaga nilai tukar rupiah tetap stabil demi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.


Komentar