Media Pendidikan – 07 Mei 2026 | FAJAR.CO.ID, MOJOKERTO — Pada 6 Mei 2026, tokoh budaya asal Sulawesi Selatan, Mukhtar Tompo, secara resmi dikukuhkan dengan gelar kehormatan “Ki” dalam sebuah upacara yang digelar di kompleks bersejarah Trowulan, Jawa Timur. Penghargaan ini menandai upaya revitalisasi semangat persaudaraan Majapahit‑Sulawesi, sekaligus menegaskan peran penting tokoh daerah dalam melestarikan warisan budaya nasional.
Acara tersebut diselenggarakan oleh lembaga kebudayaan yang berfokus pada penguatan identitas Majapahit, bekerja sama dengan pemerintah Kabupaten Mojokerto. Upacara dimulai dengan prosesi tradisional, menampilkan tarian dan musik gamelan yang melambangkan perpaduan budaya Jawa dan Sulawesi. Pada puncaknya, Ketua Panitia menyerahkan medali serta sertifikat resmi kepada Mukhtar Tompo, yang kemudian diumumkan sebagai penerima gelar “Ki”—gelar yang secara historis diberikan kepada tokoh yang dianggap memiliki kebijaksanaan dan dedikasi tinggi dalam mengembangkan nilai-nilai kebudayaan.
“Mukhtar Tompo dikukuhkan dengan gelar kehormatan “Ki””, ujar Ketua Panitia dalam sambutan resminya, menegaskan bahwa penetapan gelar ini tidak sekadar simbolis, melainkan merupakan pengakuan atas kontribusi nyata Tompo dalam menghubungkan komunitas Sulawesi Selatan dengan warisan Majapahit. Penghargaan tersebut diharapkan menjadi inspirasi bagi generasi muda agar terus mengembangkan kebudayaan lokal dalam kerangka kebangsaan.
Sebelum acara, Mukhtar Tompo menyampaikan rasa terima kasihnya kepada seluruh pihak yang mendukung proses ini. Ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas wilayah untuk menghidupkan kembali nilai‑nilai luhur masa lalu. “Saya merasa terhormat menerima gelar ‘Ki’, dan berkomitmen untuk terus memperkuat jalinan budaya antara Majapahit dan Sulawesi,” ujarnya.
Data yang tercatat menunjukkan bahwa hingga saat ini, lebih dari 150 individu telah menerima gelar “Ki” sejak program ini dimulai pada 2022, dengan mayoritas penerima berasal dari wilayah Jawa dan Sulawesi. Upacara kali ini menandai peningkatan partisipasi tokoh Sulawesi, mencerminkan pertumbuhan minat terhadap warisan Majapahit di luar Pulau Jawa.
Keberadaan Trowulan sebagai lokasi acara memiliki makna historis yang kuat; situs ini pernah menjadi ibu kota Kerajaan Majapahit pada abad ke-14, sehingga pemilihan tempat tersebut memperkuat narasi kebangkitan kembali nilai‑nilai kerajaan besar. Selama upacara, para hadirin juga diajak untuk meninjau replika arsitektur candi dan museum mini yang menampilkan artefak-artefak dari era Majapahit, memberikan konteks visual yang memperkaya pemahaman tentang warisan budaya yang dijaga.
Pengukuhan gelar “Ki” kepada Mukhtar Tompo tidak hanya menjadi sorotan media lokal, tetapi juga menimbulkan diskusi luas di kalangan akademisi dan praktisi kebudayaan mengenai peran gelar kehormatan dalam era modern. Beberapa pakar berpendapat bahwa penghargaan semacam ini dapat meningkatkan rasa memiliki dan kebanggaan nasional, terutama di tengah arus globalisasi yang kerap mengaburkan identitas lokal.
Ke depan, panitia berencana mengadakan serangkaian lokakarya dan pertukaran budaya antara komunitas Jawa dan Sulawesi, dengan fokus pada seni tradisional, bahasa, serta pelestarian situs arkeologis. Diharapkan, inisiatif ini dapat memperkuat jaringan budaya yang lebih luas, sekaligus menumbuhkan kesadaran akan pentingnya melestarikan warisan nenek moyang bagi generasi mendatang.
Dengan pengukuhan gelar “Ki” kepada Mukhtar Tompo, momentum kebangkitan semangat Majapahit‑Sulawesi kini kembali menggelora, menegaskan bahwa warisan sejarah tidak hanya menjadi catatan masa lalu, melainkan pijakan kuat bagi identitas bangsa Indonesia di masa depan.


Komentar