Media Pendidikan – 19 April 2026 | Sabtu, 18 April 2026, lebih dari seribu peserta yang berasal dari dua puluh desa penyangga berkumpul di kawasan Candi Borobudur, Jawa Tengah, untuk menyaksikan Kirab Pusaka Nusantara 2026. Acara yang berlangsung khidmat ini melibatkan budayawan, seniman, serta beragam pemangku kepentingan dalam upaya pelestarian warisan budaya Indonesia.
Kirab dimulai dari Gerbang Beringin, di mana para peserta mengarak pusaka tradisional menuju Pelataran Kenari. Selama prosesi, diselingi doa lintas agama, ritual budaya, serta penyerahan bibit konservasi sebagai simbol keberlanjutan pelestarian. Penutup acara diakhiri dengan kenduri bersama atau “umbul bojono”, menegaskan nilai kebersamaan dan harmoni antar komunitas.
Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, menegaskan pentingnya semangat gotong royong dalam pelestarian budaya. Ia menyatakan, “Kita harapkan semangat gotong royong yang kita saksikan hari ini bisa kita teruskan untuk memajukan kita bersama. Keberadaan Candi Borobudur harus kita rasakan bersama, termasuk manfaatnya bagi masyarakat di sekitar Borobudur dan juga masyarakat luas.” Pernyataan ini mencerminkan harapan pemerintah agar nilai kebersamaan tetap terjaga setelah acara berakhir.
Direktur Bina Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa Dan Masyarakat Adat, Sjamsul Hadi, menambahkan bahwa persiapan kirab pada Jumat, 10 April 2026 melibatkan pengelola kawasan Borobudur, perwakilan komunitas, dan tokoh masyarakat setempat. Ia berharap rangkaian prosesi dapat berjalan tertib, sakral, dan selaras dengan nilai budaya yang diusung.
Kirab Pusaka Nusantara 2026 juga sekaligus memperingati Hari Keris Nasional serta Hari Warisan Dunia. Penyelenggaraan pertama kali di Candi Borobudur ini menandai langkah signifikan dalam upaya mengintegrasikan warisan budaya dengan destinasi wisata dunia, sekaligus meningkatkan partisipasi aktif masyarakat lokal.
Data resmi menunjukkan bahwa masing‑masing 20 desa mengirimkan rata‑rata 50 peserta, meliputi pemuda, perempuan, dan tokoh adat. Seluruh kelompok berbaris dalam susunan yang menggambarkan tradisi, termasuk pembawa pusaka, tumpeng, dan atribut budaya lainnya. Kehadiran mereka menambah kekayaan visual serta menegaskan keterlibatan lintas komunitas.
Acara juga menampilkan pertunjukan seni tradisional, seperti tari wayang, gamelan, dan musik daerah, yang dipentaskan di antara prosesi. Penonton, baik wisatawan domestik maupun mancanegara, menyambut hangat penampilan yang memadukan nilai historis dengan dinamika kontemporer.
Penutup kirab diakhiri dengan makan bersama, di mana para peserta berbagi hidangan khas daerah masing‑masing. Momen “umbul bojono” ini tidak hanya menjadi simbol persatuan, tetapi juga memperkuat jaringan ekonomi lokal melalui penjualan makanan tradisional.
Keberhasilan Kirab Pusaka Nusantara 2026 menegaskan peran strategis Candi Borobudur sebagai pusat kebudayaan yang hidup. Diharapkan, momentum ini akan terus diulang pada tahun‑tahun mendatang, menjadikan acara tahunan yang menguatkan identitas budaya sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar.
Dengan dukungan pemerintah, tokoh adat, dan partisipasi aktif warga desa, Kirab Pusaka Nusantara 2026 menjadi contoh nyata kolaborasi lintas sektor dalam melestarikan warisan budaya Indonesia di panggung dunia.


Komentar