Media Pendidikan – 22 April 2026 | Abdul Azis, seorang guru honorer yang mengabdi di salah satu sekolah di Jakarta, mengungkapkan kondisi hidupnya yang terpuruk karena menerima gaji hanya Rp 2 juta per bulan. Dengan pendapatan tersebut, ia kesulitan memenuhi kebutuhan dasar keluarga, sehingga terpaksa mencari pekerjaan sampingan untuk menutupi kekurangan.
Guru honorer di Indonesia, khususnya di ibu kota, tidak mendapatkan tunjangan tetap maupun jaminan sosial yang layak. Gaji bulanan yang serendah itu menempatkan mereka pada posisi ekonomi yang rentan, terutama ketika harus menghidupi istri, anak, dan menanggung biaya transportasi serta kebutuhan rumah tangga.
Kasus Abdul Azis menjadi contoh nyata. Beberapa bulan lalu, ia kehilangan motor yang menjadi satu-satunya sarana transportasinya untuk mengajar. Tanpa motor, biaya transportasi naik drastis, sementara penghasilannya tetap sama. Ia kemudian terpaksa bekerja sebagai ojek online pada malam hari, meski jam kerja mengganggu istirahat dan persiapan mengajar keesokan harinya.
“Saya hanya menerima Rp 2 juta per bulan, tidak cukup untuk kebutuhan dasar,” ujar Abdul Azis dalam wawancara. “Saya harus mengambil kerja sampingan demi memastikan anak saya tetap bisa bersekolah dan istri saya tidak kelaparan.”
Situasi tersebut tidak hanya mempengaruhi kualitas hidup pribadi, tetapi juga berdampak pada kinerja mengajar. Ketika guru harus membagi waktunya antara kelas dan pekerjaan tambahan, kualitas pembelajaran bagi siswa berpotensi menurun. Hal ini menambah tekanan pada sistem pendidikan yang sudah menghadapi tantangan lainnya.
Abdul Azis menyatakan harapannya kepada pemerintah untuk segera meninjau kembali kebijakan penggajian guru honorer. Ia menekankan bahwa peningkatan gaji dan pemberian tunjangan kesehatan akan menjadi langkah penting untuk meningkatkan kesejahteraan tenaga pendidik non‑pegawai tetap.
Kasus ini mencerminkan kebutuhan mendesak akan reformasi kebijakan yang dapat menjamin penghidupan layak bagi guru honorer. Tanpa intervensi yang tepat, banyak tenaga pendidik serupa akan terus terpaksa menjalani dua pekerjaan, yang pada akhirnya dapat memengaruhi mutu pendidikan di Jakarta dan seluruh Indonesia.


Komentar