Media Pendidikan – 02 Juli 2026 | Kita sering terlalu pandai memaniskan keadaan hidup. Kita lupa menakar kata-kata, harapan, pujian, dan alas an. Kita sering memaniskan luka bukan karena sudah sembuh, melainkan karena takut dianggap lemah. Kita memaniskan kegagalan bukan karena sudah mengambil pelajaran, melainkan karena malu mengaku kalah. Kita memaniskan kenyataan bukan karena optimis, melainkan karena tidak sanggup menatapnya terlalu lama.
Gula di ujung lidah membuat banyak hal terdengar baik-baik saja. Di media sosial, kita menabur gula dengan lebih riang. Hidup dipotret dari sudut terbaik. Makanan difoto sebelum didoakan. Senyum dipasang sebelum hati diperiksa. Kata-kata bijak beterbangan seperti brosur diskon akhir pekan.
Tetapi kita perlu berhati-hati. Sebab manis tidak selalu salah, tetapi manis yang berlebihan bisa membuat kita kehilangan rasa asli kehidupan. Kita perlu bertanya: sudah berapa banyak kenyataan yang kita maniskan agar tidak perlu kita ubah? Sudah berapa lama kita menyebut masalah sebagai "proses"? Sudah berapa kali kita menyebut ketidakberanian sebagai "menunggu waktu yang tepat"?
Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin pahit. Tetapi bukankah setelah kopi, kita sudah belajar bahwa pahit kadang diperlukan agar mata terbuka? Gula mengingatkan kita agar tidak mabuk oleh manis. Dan sebelum nanti kita berbicara tentang yang lainnya, barangkali kita perlu memastikan satu hal lebih dulu: lidah kita masih mampu membedakan rasa.


Komentar