Media Pendidikan – 18 April 2026 | Jakarta, 18 April 2026 – Menurut laporan International Diabetes Federation (IDF) terbaru, Indonesia menempati peringkat kelima secara global dengan jumlah penderita diabetes terbanyak pada tahun 2026. Data tersebut memperkirakan lebih dari sepuluh juta warga negara mengidap diabetes, menegaskan bahwa beban penyakit ini masih sangat tinggi dan menuntut peninjauan kembali strategi penanganannya.
Penempatan ini menempatkan Indonesia di belakang negara‑negara dengan populasi diabetes terbesar seperti China, India, Amerika Serikat, dan Brazil. Angka “puluhan juta jiwa” yang disebutkan IDF mencerminkan peningkatan signifikan dibandingkan survei sebelumnya, meskipun upaya pencegahan dan pengendalian telah digencarkan oleh Kementerian Kesehatan.
Kementerian Kesehatan mengakui bahwa pendekatan saat ini belum mampu menurunkan prevalensi secara signifikan. “Kita harus memperkuat program pencegahan dan kontrol diabetes, terutama di daerah dengan akses layanan kesehatan terbatas,” ujar Dr. Agus Santoso, Direktur Pusat Pengendalian Penyakit Tidak Menular. Pernyataan ini menekankan perlunya evaluasi kebijakan, termasuk peningkatan skrining rutin, edukasi masyarakat, serta penyediaan obat yang terjangkau.
Data IDF menunjukkan bahwa sekitar 15% populasi dewasa Indonesia berada dalam risiko tinggi mengidap diabetes tipe 2, dengan faktor risiko utama berupa obesitas, pola makan tinggi gula, dan kurangnya aktivitas fisik. Sebagian besar kasus terdeteksi pada usia produktif, yang berdampak pada produktivitas tenaga kerja dan beban ekonomi nasional.
Berbagai pihak menyarankan beberapa langkah konkret untuk memperbaiki situasi. Pertama, memperluas program skrining di fasilitas kesehatan primer, sehingga deteksi dini dapat dilakukan secara massal. Kedua, meluncurkan kampanye edukasi yang menekankan pentingnya pola makan seimbang dan aktivitas fisik, terutama di sekolah dan tempat kerja. Ketiga, meningkatkan subsidi obat antidiabetik dan alat monitoring glukosa bagi kelompok berpenghasilan rendah.
Selain itu, penelitian lokal menyoroti perlunya integrasi data kesehatan digital untuk memantau tren kasus secara real‑time. Dengan platform data terpusat, pemerintah dapat mengidentifikasi hotspot geografis dan menyesuaikan intervensi secara cepat.
Menutup laporan, Menteri Kesehatan menegaskan komitmen pemerintah untuk meninjau kebijakan yang ada. “Evaluasi menyeluruh akan menjadi landasan perbaikan strategi, agar Indonesia dapat menurunkan angka prevalensi diabetes dan mengurangi beban sosial‑ekonomi yang ditimbulkannya,” katanya dalam konferensi pers kemarin.


Komentar