Media Pendidikan – 29 Mei 2026 | Fenomena identitas Tionghoa di Indonesia mengalami perubahan besar dalam dua dekade terakhir. Pada masa Orde Baru, identitas Tionghoa sering disembunyikan melalui asimilasi dan passing identity; identitas asli dileburkan atau disembunyikan. Namun, Generasi Z Tionghoa Indonesia menunjukkan pola yang berbeda. Banyak anak muda Tionghoa saat ini justru secara terbuka menyebut dirinya "Chindo", sebuah istilah populer yang merujuk pada "China Indonesia". Istilah ini menjadi label sosial, dan merupakan bentuk identitas baru yang lebih cair, fleksibel, dan hybrid.
Fenomena "Chindo" menjadi menarik karena menunjukkan bagaimana generasi muda Tionghoa memahami dirinya. Mereka tidak lagi melihat identitas sebagai "Indonesia" atau "Tionghoa", tetapi sebagai penggabungan keduanya. Dalam konteks ini, "Chindo" dapat dipahami sebagai bentuk hybrid identity, yaitu identitas campuran hasil negosiasi sejarah, budaya, dan globalisasi.
Generasi Z lahir pascareformasi, sehingga tidak mengalami langsung berbagai kebijakan diskriminatif seperti larangan penggunaan bahasa Cina, pembatasan praktik budaya, dan kerusuhan berbau rasial 1998. Hal ini membuat Generasi Z tumbuh dalam situasi sosial yang lebih terbuka dan multikultural. Walaupun demikian, memori kolektif tentang diskriminasi masih memengaruhi pembentukan identitas mereka.
Di media sosial atau ruang digital, Chindo generasi Z cenderung dapat menampilkan dan menegosiasikan identitas mereka. Mereka juga melakukan selective disclosure dan terbuka dalam penggunaan nama Cina, konten mengenai Imlek, humor mengenai etnis mereka, bahkan mengekspresikan kebanggaan terhadap etnis mereka. Banyak content creator Chindo yang mendapatkan banyak follower dan mendapat apresiasi dari masyarakat.
Identitas Chindo menjadi bentuk kompromi dan merupakan transformasi identitas pascareformasi; dari identitas yang "berusaha ditutupi" menjadi identitas yang lebih cair dan integratif. Perkembangan zaman dan globalisasi juga mendorong terbentuknya identitas hybrid ini. Korean drama, China drama, dan K-pop wave juga membentuk "toleransi" terhadap etnis ini.


Komentar