Media Pendidikan – 04 Mei 2026 | Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) baru-baru ini menambahkan sejumlah kata serapan, termasuk “oppa” dari bahasa Korea dan “hoki” yang diambil dari bahasa Cina, menandakan semakin meluasnya pengaruh bahasa asing dalam perbendaharaan kata resmi Indonesia. Penambahan ini memicu keprihatinan para pakar bahasa bahwa bahasa ibu bangsa mulai kehilangan ruang di lidah generasi muda.
Proses Penambahan Kata Serapan
KBBI mengesahkan kata baru berdasarkan tiga kriteria utama: frekuensi penggunaan yang tinggi di masyarakat, kejelasan serta kestabilan makna, dan kemudahan pengucapan. Dengan demikian, kata-kata yang masuk ke dalam kamus mencerminkan kebiasaan aktual masyarakat, bukan sekadar pilihan editorial. “Opba” dan “hoki” menjadi contoh nyata bagaimana istilah dari Korea, Cina, Inggris, dan daerah lain bersaing memperebutkan tempat di lidah anak muda.
Pengaruh Media dan Teknologi
Musik, drama, dan konten digital menjadi saluran utama penyebaran kosakata asing. Satu anak yang menirukan dialog dalam film dapat memicu penyebaran istilah tersebut ke komunitas yang lebih luas, terutama berkat kecepatan penyebaran lewat platform digital. Akibatnya, banyak remaja yang lebih akrab dengan kata “oppa” daripada kata “opa” yang telah lama ada dalam bahasa Indonesia dengan arti serupa.
“Jika bahasa ibu hilang, identitas bangsa akan tergerus,” ujar Dr. Rina Susanti, pakar bahasa dan kebudayaan, menekankan bahaya kehilangan akar budaya ketika istilah global mendominasi percakapan sehari-hari.
Risiko Kehilangan Bahasa Ibu
Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan cerminan budaya dan jati diri suatu kelompok. Ketika kosakata lokal seperti “bejo” terpinggirkan oleh istilah asing, bukan hanya kata yang hilang, melainkan pula nilai filosofi, cerita rakyat, dan kearifan lokal yang melekat padanya. Tanpa bahasa ibu, generasi mendatang berisiko menjadi “generasi krisis identitas” yang mengadopsi budaya luar tanpa pemahaman mendalam tentang warisan asal mereka.
Upaya Revitalisasi Melalui Digitalisasi
Menanggapi tantangan ini, pakar menyarankan pemanfaatan teknologi untuk mengangkat bahasa daerah. Digitalisasi, misalnya melalui aplikasi belajar, konten kreatif, atau media sosial, dapat menjadikan bahasa ibu lebih menarik bagi generasi yang terbiasa dengan platform modern. Badan Bahasa diharapkan tidak hanya terbuka pada istilah asing, tetapi juga lebih proaktif mempromosikan istilah lokal agar setara popularitasnya dengan kata-kata serapan.
Strategi serupa telah berhasil di Korea Selatan, yang mampu menyebarluaskan bahasa dan budaya mereka lewat K‑pop dan drama. Indonesia dapat meniru model itu dengan mengemas bahasa daerah dalam format yang relevan bagi anak muda, sehingga bahasa ibu tidak lagi dianggap kuno atau terbatas pada ruang domestik.
Kesimpulan
Penambahan kata serapan ke KBBI mencerminkan dinamika bahasa yang alami, namun perlu diimbangi dengan langkah konkret untuk melestarikan bahasa ibu. Digitalisasi, kolaborasi lintas lembaga, dan pendidikan yang menekankan kebanggaan bahasa lokal menjadi kunci agar bahasa Indonesia tetap menjadi rumah yang akrab sekaligus terbuka bagi pengaruh global.


Komentar