Daerah
Beranda » Berita » Taman Hijau Baru di Rusun Angke: Transformasi Lahan Sampah Liar Jadi Ruang Publik

Taman Hijau Baru di Rusun Angke: Transformasi Lahan Sampah Liar Jadi Ruang Publik

Taman Hijau Baru di Rusun Angke: Transformasi Lahan Sampah Liar Jadi Ruang Publik
Taman Hijau Baru di Rusun Angke: Transformasi Lahan Sampah Liar Jadi Ruang Publik

Media Pendidikan – 06 April 2026 | Jakarta Barat – Lahan yang selama ini menjadi titik rawan pembuangan sampah liar di kawasan Rusun Angke, Tambora, akan diubah menjadi taman kota yang ramah lingkungan. Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya jangka panjang pemerintah daerah untuk mengatasi permasalahan sampah dan meningkatkan kualitas ruang terbuka hijau (RTH) di wilayah padat penduduk.

Selama beberapa tahun terakhir, area di sekitar kompleks perumahan susun (rusun) tersebut menjadi magnet bagi warga yang membuang sampah secara tidak teratur. Penumpukan sampah tidak hanya mengotori lingkungan, tetapi juga menimbulkan bau tidak sedap, menurunkan nilai properti, serta meningkatkan risiko penyebaran penyakit. Menyadari dampak negatif tersebut, Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta bersama Badan Pengelolaan Sampah (BPS) mengusulkan rencana revitalisasi lahan menjadi taman publik.

Baca juga:

Rencana transformasi mencakup beberapa tahap utama. Pertama, dilakukan pembersihan menyeluruh terhadap area yang terkontaminasi, termasuk pemindahan sampah yang sudah menumpuk selama bertahun-tahun. Selanjutnya, tanah akan dipulihkan dengan penambahan lapisan tanah subur dan penanaman vegetasi lokal yang tahan terhadap kondisi perkotaan. Penanaman pohon-pohon berdaun lebar, semak-semak berbunga, serta rumput alami direncanakan untuk menciptakan ekosistem mini yang dapat menyerap polusi udara dan menurunkan suhu lingkungan sekitar.

Selain penanaman flora, desain taman akan dilengkapi dengan jalur pejalan kaki berbahan ramah lingkungan, area bermain anak, serta ruang terbuka bagi warga untuk berolahraga ringan seperti senam pagi atau yoga. Fasilitas pencahayaan tenaga surya dan sistem irigasi tetes otomatis akan dipasang untuk mengurangi konsumsi energi dan air. Seluruh elemen desain mengusung prinsip “green infrastructure” yang menekankan pada keberlanjutan dan minimnya dampak lingkungan.

Baca juga:

Pemerintah kota menegaskan bahwa proyek ini tidak hanya sekadar mempercantik tampilan fisik kawasan, melainkan juga berupaya mengubah perilaku masyarakat terkait pengelolaan sampah. Sebagai bagian dari program edukasi, akan dibentuk posko informasi di sekitar taman yang menyediakan materi tentang pemilahan sampah, daur ulang, serta pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Relawan komunitas setempat juga akan dilibatkan dalam kegiatan penanaman pohon dan pemeliharaan taman secara berkala.

Keberhasilan proyek ini juga diharapkan dapat menjadi contoh bagi daerah lain yang menghadapi masalah serupa. Dengan mengintegrasikan aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan, transformasi lahan sampah liar menjadi taman tidak hanya menyelesaikan masalah kebersihan, tetapi juga menciptakan nilai tambah bagi masyarakat. Investasi pada infrastruktur hijau terbukti meningkatkan kesejahteraan warga, menurunkan biaya kesehatan akibat penyakit yang berhubungan dengan sanitasi buruk, serta membuka peluang usaha mikro seperti penjual makanan sehat atau penyedia perlengkapan kebun.

Baca juga:

Seluruh proses pembangunan diperkirakan memakan waktu enam bulan, dimulai pada kuartal kedua tahun 2026. Anggaran yang dialokasikan sebesar Rp 15 miliar akan ditutupi oleh anggaran DKI Jakarta dan dukungan sponsor swasta yang berkomitmen pada program CSR (Corporate Social Responsibility) terkait lingkungan. Pemerintah berjanji akan melakukan evaluasi rutin setelah taman resmi dibuka untuk memastikan bahwa tujuan jangka panjang—yaitu mengurangi pembuangan sampah liar secara signifikan—tercapai.

Dengan hadirnya taman baru ini, warga Rusun Angke dan sekitarnya dapat menantikan ruang publik yang lebih bersih, aman, dan nyaman. Transformasi yang dulunya menjadi simbol masalah lingkungan kini berpotensi menjadi ikon kebanggaan komunitas, menegaskan kembali bahwa perubahan positif dapat dimulai dari langkah kecil namun terencana.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *