Media Pendidikan – 07 Mei 2026 | Jakarta, 6 Mei 2026 – Sejumlah puluhan santriwati di sebuah pesantren di Pati menjadi korban pemerkosaan berantai yang menimbulkan keprihatinan nasional. Tersangka utama, seorang pemuda bernama Silfester, tiba-tiba menghilang setelah polisi mengumumkan penangkapannya. Sutradara film “Sayap‑sayap Patah”, Denny Siregar, menanggapi kaburnya tersangka dengan menegaskan bahwa situasi ini memang sudah dapat diperkirakan mengingat tekanan yang melanda pelaku.
Detail Kasus dan Kronologi
Pada awal April 2026, beberapa santriwati melaporkan dugaan perkosaan yang terjadi di dalam asrama pesantren tersebut. Menurut laporan kepolisian, korban mengidentifikasi pelaku sebagai Silfester, seorang pemuda yang sebelumnya dikenal di lingkungan pesantren. Setelah penyelidikan intensif, tim penyidik berhasil mengumpulkan bukti fisik dan kesaksian yang memperkuat tuduhan terhadap Silfester.
Polisi kemudian mengumumkan penangkapan tersangka pada pertengahan April, namun pada hari berikutnya Silfester tidak dapat ditemukan. Pencarian intensif melibatkan unit khusus, satpol PP, serta relawan masyarakat setempat. Hingga kini, jejaknya masih belum terdeteksi.
“Tidak mengherankan bila tersangka melarikan diri, mengingat tekanan publik dan ancaman hukum yang berat,” ujar Denny Siregar dalam sebuah wawancara di kantor redaksi FAJAR.CO.ID. “Saya pribadi memahami rasa takut yang dirasakan Silfester, meski itu tidak mengurangi keharusan bagi penegak hukum untuk mengusut tuntas kasus ini.”
Polisi mencatat bahwa korban berjumlah puluhan, dengan sebagian besar berusia antara 13 hingga 18 tahun. Semua korban telah menerima layanan medis dan psikologis, serta dilindungi saksi. Penyelidikan juga menemukan bahwa pelaku diduga memiliki jaringan pergaulan yang memudahkan aksi kejahatan berulang.
Sejumlah saksi masyarakat melaporkan adanya aktivitas mencurigakan di sekitar wilayah pesantren sejak minggu lalu. Pihak berwenang menelusuri jejak digital dan fisik Silfester, namun hingga saat ini belum ada hasil yang memadai. Pencarian masih berlanjut, termasuk pemantauan media sosial dan pengecekan tempat-tempat pengungsian potensial.
Kasus ini menimbulkan kecaman luas dari kalangan aktivis perempuan dan organisasi hak asasi manusia. Mereka menuntut penegakan hukum yang tegas serta perlindungan lebih kuat bagi santriwati dan korban kekerasan seksual di institusi pendidikan.
Dengan tekanan publik yang terus meningkat, kepolisian Pati berjanji akan meningkatkan koordinasi dengan lembaga lain untuk mempercepat penemuan Silfester. Sementara itu, keluarga korban berharap proses hukum dapat berjalan cepat dan adil, serta meminta agar semua pelaku yang terlibat dalam jaringan kriminal ini dapat diusut tuntas.


Komentar