Media Pendidikan – 06 Mei 2026 | Jakarta, 6 Mei 2026 – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga dan Menteri Keuangan Purbaya mengungkapkan strategi khusus untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal kedua tahun ini.
Pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal I 2026 tercatat 5,61 persen, dipacu oleh konsumsi rumah tangga yang kuat. Menyikapi data tersebut, pemerintah menyiapkan serangkaian kebijakan yang ditujukan untuk memperluas basis permintaan dan meningkatkan produktivitas sektor riil.
Strategi Pemerintah di Kuartal II
Purbaya menambahkan bahwa koordinasi lintas sektor akan diperkokoh, khususnya antara kementerian, bank sentral, dan otoritas daerah. “Kami akan memantau inflasi secara ketat sambil memastikan pasokan barang kebutuhan pokok tetap stabil,” ujarnya.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa konsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari 55 persen pertumbuhan PDB pada kuartal I. Dengan memperkuat jaringan distribusi dan menurunkan hambatan logistik, pemerintah berharap kontribusi tersebut dapat dipertahankan atau bahkan ditingkatkan.
Selain itu, paket stimulus yang diarahkan pada sektor UMKM diperkirakan akan menambah nilai tambah sekitar 0,8 poin produk domestik bruto (PDB). Pemerintah juga menyiapkan program pelatihan digital bagi pelaku usaha kecil untuk memanfaatkan pasar daring.
Dalam rapat koordinasi, para pejabat menekankan pentingnya stabilitas nilai tukar rupiah serta kebijakan moneter yang mendukung pertumbuhan kredit. Bank Indonesia diperkirakan akan menjaga suku bunga acuan pada level yang kompetitif untuk menstimulus investasi.
Dengan menggabungkan kebijakan fiskal, moneter, dan struktural, diharapkan ekonomi Indonesia dapat mencatat pertumbuhan antara 5,5 hingga 6,0 persen pada kuartal II, menutup tahun 2026 dengan performa yang lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya.
Secara keseluruhan, “jurus jitu” yang diungkapkan Airlangga dan Purbaya menekankan sinergi kebijakan yang holistik, menargetkan peningkatan daya beli konsumen, dan memperkuat fondasi produksi dalam negeri.


Komentar