Guru & Dosen
Beranda » Berita » Guru Honorer NTT Tempuh 6 km Melintasi Hutan, Hanya Dapat Rp150 Ribu per Bulan

Guru Honorer NTT Tempuh 6 km Melintasi Hutan, Hanya Dapat Rp150 Ribu per Bulan

Guru Honorer NTT Tempuh 6 km Melintasi Hutan, Hanya Dapat Rp150 Ribu per Bulan
Guru Honorer NTT Tempuh 6 km Melintasi Hutan, Hanya Dapat Rp150 Ribu per Bulan

Media Pendidikan – 05 Mei 2026 | Di desa Sikka, Kecamatan Lela, Kabupaten Sikka, Flores, NTT, seorang guru honorer bernama Yustina Yuniarti menempuh perjalanan sekitar enam kilometer setiap pagi, melewati jalan setapak berbatu, hutan lebat, bahkan tepi jurang, hanya untuk mengajar di Sekolah Dasar Kelas (SDK) Wukur. Meskipun telah mengabdi sejak 2016, ia hanya menerima honorarium sebesar Rp150.000 per bulan yang bersumber dari iuran komite sekolah.

Rute yang dilalui Yustina tidak menyerupai jalan raya; ia harus menumpang sepeda motor warga hingga pinggiran kampung, kemudian melanjutkan kaki sejauh enam kilometer melalui medan yang menantang. Kondisi ini membuatnya sering harus beristirahat di atas pasir atau sandal jepit, namun semangat mengajar tetap menyala. “Saya sudah mengabdi 11 tahun. Setiap pagi saya berjalan melewati jalan berbatu, rusak, hutan, bahkan pantai. Jaraknya sekitar 6 kilometer. Meski berat, saya lakukan ini demi anak‑anak di sini,” ujarnya pada Senin (4/5/2026).

Baca juga:

Gaji yang diterima Yustina jauh di bawah kebutuhan hidup dasar. Pada awal kariernya, honor bulanan hanya Rp15.000; kenaikan sepuluh kali lipat masih tidak mencukupi. Karena tidak termasuk dalam program Bantuan Operasional Sekolah (BOS), para guru honorer di SDK Wukur tidak memperoleh tambahan dana. Kepala Sekolah, Tersiana Siti Rosa, mengonfirmasi bahwa dari delapan tenaga pendidik, hanya satu yang berstatus ASN, sementara tujuh lainnya adalah guru honorer dengan penghasilan yang sama.

Selain tantangan finansial, fasilitas sekolah juga terbatas. SDK Wukur melayani 34 siswa dengan hanya satu ruangan kelas yang harus dipakai bersama dua tingkat kelas, dipisahkan sekat sederhana. Tidak ada jaringan internet, sehingga pada saat pelaksanaan Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) para guru dan siswa harus menempuh perjalanan ke sekolah lain di kampung utama untuk mengakses komputer. Kondisi tersebut menambah beban kerja guru yang sudah berat.

Baca juga:

Harapan Yustina dan rekan‑rekan guru tetap tinggi. Mereka menginginkan sekolah dinasionalisasi agar gaji lebih terjamin, perbaikan jalan menuju desa, serta pembangunan rumah dinas. “Kami juga berharap, jika ada seleksi CPNS, guru‑guru swasta di daerah terpencil seperti kami dapat diprioritaskan,” kata Tersiana. Surat terbuka juga telah disampaikan kepada Presiden Prabowo Subianto, meminta perhatian khusus pada pendidikan di wilayah terluar Nusa Tenggara Timur.

Kasus ini menyoroti kesenjangan antara dedikasi tenaga pendidik di daerah terpencil dan kebijakan remunerasi yang masih belum memadai. Selama lebih satu dekade, guru‑guru seperti Yustina terus melangkah menembus hutan demi memberikan akses pendidikan dasar bagi anak‑anak di pelosok, menunjukkan bahwa panggilan hati dapat mengatasi keterbatasan materi.

Baca juga:

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *