Ekonomi
Beranda » Berita » Ekowisata Sagu Rutong dan Tuban Dorong Ekonomi Lokal serta Lindungi Alam

Ekowisata Sagu Rutong dan Tuban Dorong Ekonomi Lokal serta Lindungi Alam

Ekowisata Sagu Rutong dan Tuban Dorong Ekonomi Lokal serta Lindungi Alam
Ekowisata Sagu Rutong dan Tuban Dorong Ekonomi Lokal serta Lindungi Alam

Media Pendidikan – 04 Mei 2026 | Ekowisata Sagu di Rutong, Ambon, dan Tuban kini menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi desa sekaligus upaya pelestarian hutan sagu yang sakral bagi masyarakat adat.

Program ekowisata berbasis hutan sagu di Negeri Rutong, Ambon, digerakkan oleh Kepala Pemerintahan Reza Valdo Maspaitella bersama tim digitalisasi yang berhasil memetakan sekitar tiga puluh hektar lahan sagu. Data tersebut dipakai untuk konservasi jangka panjang dan mencegah tekanan pembangunan modern yang dapat merusak ekosistem.

Baca juga:

“Pohon sagu ini merupakan bagian daripada kehidupan dari masyarakat negeri. Karena memang kalau kita lihat sudah berabad-abad lamanya sagu ini merupakan bagian daripada bagaimana masyarakat ini bisa hidup,” kata Reza Valdo dalam wawancara bersama Pro3 RRI, Minggu 3 Mei 2026.

Implementasi ekowisata di Rutong menghasilkan peningkatan pendapatan asli desa hingga empat kali lipat dibandingkan sebelum program dimulai. Sebagian besar keuntungan dialokasikan kepada pemilik tanah adat, kas desa, serta biaya operasional lembaga pengelola, sehingga keberlanjutan sektor pariwisata terjamin.

Baca juga:

Sementara itu, di wilayah Tuban, pengelola Ekowisata Pelang, Agus Susanto, mengubah lahan perkebunan sagu menjadi destinasi wisata edukatif yang memanfaatkan aliran sungai jernih di tengah kebun. Inisiatif ini bertujuan mengembalikan nilai historis pohon sagu yang mulai terlupakan sejak era modern.

“Seiring berjalannya waktu di tahun 2018 kami terinisiasi karena notabenya di era modern ini, nilai-nilai dari pohon sagu itu tergerus dengan perkembangan zaman lalu. Sehingga bagaimana sejarah yang pernah menghidupi, kita kembalikan dengan mendirikan sebuah wisata kebun sagu di wisata Pelang,” ujar Agus Susanto.

Baca juga:

Fasilitas pendukung seperti area perkemahan, spot swafoto, dan wahana susur sungai terus dikembangkan untuk menarik wisatawan luar daerah. Lebih dari puluhan anggota kelompok sadar wisata dilatih untuk melakukan pemasaran digital secara masif lewat media sosial, meningkatkan visibilitas kedua destinasi.

Keberhasilan kedua program tidak lepas dari kolaborasi pemerintah desa, akademisi, dan masyarakat setempat. Pendekatan profesional dalam pengelolaan hutan sagu menunjukkan bahwa pelestarian alam dapat bersinergi dengan kemandirian ekonomi pedesaan, membuka peluang baru bagi generasi muda untuk belajar dan berkontribusi.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *