Ekonomi
Beranda » Berita » Hari Buruh 2026: Mercy PDIP Ungkit Ajaran Bung Karno soal Kemerdekaan Ekonomi

Hari Buruh 2026: Mercy PDIP Ungkit Ajaran Bung Karno soal Kemerdekaan Ekonomi

Hari Buruh 2026: Mercy PDIP Ungkit Ajaran Bung Karno soal Kemerdekaan Ekonomi
Hari Buruh 2026: Mercy PDIP Ungkit Ajaran Bung Karno soal Kemerdekaan Ekonomi

Media Pendidikan – 04 Mei 2026 | Jakarta, 3 Mei 2026 – Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Mercy Chriesty Barends, menyinggung kembali ajaran Proklamator Soekarno tentang kemerdekaan ekonomi saat menghadiri perayaan Hari Buruh Internasional 2026. Acara yang bertajuk “Banteng Pro Pekerja: Buruh Berdaulat, Indonesia Berdikari” digelar di GOR Otista, Jakarta Timur, menyatukan ribuan pekerja, serikat, dan pejabat pemerintah.

Dalam sambutannya, Mercy menekankan bahwa kemerdekaan ekonomi bukan sekadar retorika, melainkan landasan bagi kedaulatan buruh. Ia mengaitkan semangat tersebut dengan perjuangan Bung Karno yang menegaskan pentingnya kemandirian ekonomi nasional sebagai bagian tak terpisahkan dari kebebasan politik. Menurutnya, hari ini menjadi momentum untuk menghidupkan kembali nilai‑nilai itu di tengah tantangan globalisasi.

Baca juga:

Kata Mercy PDIP tentang warisan Bung Karno

“Kita harus menghidupkan kembali semangat kemerdekaan ekonomi yang diajarkan Bung Karno, agar setiap buruh dapat berkontribusi pada Indonesia yang berdikari,” ujar Mercy dengan tegas di panggung utama. Pernyataan tersebut diikuti oleh seruan agar pemerintah memperkuat kebijakan yang melindungi upah layak, jaminan sosial, dan kesempatan kerja yang adil, yang ia sebut sebagai wujud konkret dari ajaran sang Proklamator.

Acara tersebut juga menampilkan pidato dari perwakilan serikat pekerja Nasional, yang menyoroti pentingnya perlindungan hak-hak buruh dalam konteks transformasi digital. Mereka menekankan bahwa kemerdekaan ekonomi harus mencakup akses kepada pelatihan keterampilan, sehingga tenaga kerja dapat bersaing dalam ekonomi berbasis pengetahuan.

Baca juga:

Selain pidato, peringatan Hari Buruh 2026 menampilkan pertunjukan seni tradisional dan modern yang menggambarkan perjuangan kelas pekerja sejak masa kolonial hingga era reformasi. Penonton dapat menyaksikan tarian yang melambangkan semangat “banteng” sebagai simbol kekuatan dan ketangguhan pekerja Indonesia.

Penutup acara diisi dengan himne kebangsaan dan pengibaran bendera Merah Putih, menandai komitmen bersama antara pemerintah, partai politik, dan serikat pekerja untuk mewujudkan Indonesia yang berdaulat secara ekonomi. Mercy menegaskan bahwa agenda ini tidak hanya relevan pada hari peringatan, melainkan harus menjadi agenda jangka panjang dalam kebijakan publik.

Baca juga:

Dengan tema “Banteng Pro Pekerja: Buruh Berdaulat, Indonesia Berdikari”, peringatan Hari Buruh 2026 di GOR Otista menjadi titik tolak bagi diskusi lebih luas tentang kebijakan ketenagakerjaan, investasi dalam sumber daya manusia, dan strategi nasional untuk mengurangi ketergantungan pada impor. Para pemangku kepentingan sepakat untuk melanjutkan dialog ini dalam forum‑forum selanjutnya, guna memastikan bahwa aspirasi buruh terakomodasi dalam rencana pembangunan jangka menengah.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *