Media Pendidikan – 04 Mei 2026 | Taman Mangu, sebuah permukiman di wilayah Ciputat, Tangerang Selatan, kini menjadi saksi fenomena pemukiman yang mulai ditinggalkan. Banjir berulang yang disebabkan oleh meluapnya Kali Ciputat memaksa sebagian warga mengambil keputusan untuk mengosongkan rumah mereka, sementara sebagian kecil masih berusaha bertahan di tengah ancaman air.
Fenomena ini mulai terlihat pada awal tahun 2026 ketika curah hujan ekstrem melanda daerah Jabodetabek. Air sungai yang biasanya mengalir deras berubah menjadi bahaya bagi pemukiman yang berada di dataran rendah. Sejumlah rumah di Taman Mangu dilaporkan telah mengalami kerusakan struktural akibat genangan air yang terus-menerus, sehingga mengurangi nilai hunian dan menurunkan rasa aman warga.
Rangkaian kejadian yang memicu kepindahan
Ketegangan semakin meningkat ketika pihak berwenang mengeluarkan peringatan evakuasi bagi zona yang berada di bawah permukaan 1,5 meter dari permukaan air. Meskipun demikian, sebagian penduduk tetap memilih untuk tetap berada di rumah, berharap perbaikan infrastruktur dapat mengatasi masalah. Namun, banyak yang memutuskan untuk menjual atau menyewakan properti mereka, menunggu kesempatan pindah ke area yang lebih aman.
Data dari Dinas Penataan Ruang Kota Tangerang Selatan menunjukkan bahwa Taman Mangu berada di zona rawan banjir tingkat tinggi, dengan 30% wilayahnya berada di bawah risiko genangan air selama musim hujan. Meskipun tidak ada angka pasti tentang jumlah rumah yang kosong, observasi lapangan mengindikasikan bahwa setidaknya puluhan rumah kini tampak tak berpenghuni, dengan jendela dan pintu terbuka lebar menandakan pemukiman yang telah ditinggalkan.
Para ahli lingkungan mengingatkan bahwa penyebab utama banjir berulang bukan hanya intensitas hujan, melainkan juga penurunan kapasitas penyerapan tanah akibat urbanisasi yang cepat. Penambahan jalan aspal dan pembangunan tanpa memperhatikan tata ruang memperparah aliran air ke sungai, sehingga memicu meluapnya Kali Ciputat.
Pemerintah daerah telah merencanakan proyek rehabilitasi sungai, termasuk pembersihan sedimen, pembangunan bendungan kecil, dan peningkatan sistem drainase. Namun, pelaksanaan proyek masih dalam tahap awal, sehingga dampaknya belum dirasakan oleh warga Taman Mangu.
Situasi ini menimbulkan pertanyaan tentang masa depan permukiman di kawasan rawan banjir. Apakah pemerintah dapat menyelesaikan permasalahan infrastruktur dengan cepat, atau apakah warga akan terus beralih ke daerah yang lebih tinggi? Untuk saat ini, Taman Mangu menjadi contoh nyata bagaimana perubahan iklim dan tata ruang yang kurang terkelola dapat memaksa masyarakat meninggalkan rumah mereka.


Komentar