Media Pendidikan – 04 Mei 2026 | Data terbaru Kementerian Kesehatan mengungkap sebanyak 3,6 juta anak di Indonesia telah terdiagnosa mengalami miopia, dan tren peningkatan kasus diproyeksikan terus berlanjut. Kondisi refraksi ini tidak hanya mengganggu penglihatan jarak jauh, tetapi juga meningkatkan risiko komplikasi serius seperti degenerasi makula dan katarak pada usia muda.
Lensa Ortho‑K sebagai Pilihan Pencegahan
Ortho‑K, atau orthokeratology, merupakan lensa kontak khusus yang dipakai pada malam hari untuk merubah bentuk kornea secara sementara. Dengan memindahkan titik fokus retina, lensa ini dapat memperbaiki penglihatan pada siang hari tanpa bantuan kacamata. Lebih penting, sejumlah studi klinis menunjukkan bahwa penggunaan rutin Ortho‑K dapat memperlambat laju progresi miopia pada anak, sehingga menurunkan peluang munculnya komplikasi jangka panjang.
Implementasi program Ortho‑K di Indonesia masih berada pada tahap awal, namun sejumlah klinik mata di kota besar telah menawarkan layanan ini kepada keluarga yang mengkhawatirkan perkembangan miopia pada anak. Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan menekankan pentingnya deteksi dini dan intervensi yang tepat, termasuk edukasi tentang kebiasaan menatap layar yang berlebihan serta peningkatan waktu bermain di luar ruangan.
“Ortho‑K bukan sekadar alternatif estetika, melainkan alat klinis yang terbukti dapat menahan pertumbuhan miopia pada usia kritis,” ujar dr. Anita Suryani, Sp.M, dokter spesialis mata di Rumah Sakit Mata Nasional. “Jika dipadukan dengan kebiasaan hidup sehat, lensa ini menjadi lini pertahanan pertama bagi generasi muda kita.
Dengan populasi anak Indonesia yang terus bertambah, kebutuhan akan solusi yang dapat mencegah beban kesehatan mata masa depan menjadi semakin mendesak. Kementerian Kesehatan berencana memperluas akses layanan Ortho‑K melalui kerjasama dengan asuransi kesehatan dan program subsidi, sekaligus meluncurkan kampanye nasional yang menekankan pentingnya pemeriksaan mata rutin sejak usia dini.
Keberhasilan upaya pencegahan ini akan sangat bergantung pada partisipasi orang tua, tenaga medis, dan kebijakan publik yang mendukung. Jika langkah-langkah tersebut dijalankan secara konsisten, diharapkan angka anak yang mengalami miopia dapat dikendalikan, sekaligus mengurangi beban komplikasi mata yang mengancam produktivitas generasi masa depan.


Komentar