Pendidikan
Beranda » Berita » Wakil Presiden Gibran Tinjau Pelatihan AI untuk Santri di Pondok Pesantren

Wakil Presiden Gibran Tinjau Pelatihan AI untuk Santri di Pondok Pesantren

Wakil Presiden Gibran Tinjau Pelatihan AI untuk Santri di Pondok Pesantren
Wakil Presiden Gibran Tinjau Pelatihan AI untuk Santri di Pondok Pesantren

Media Pendidikan – 01 Mei 2026 | Jakarta, 30 April 2026 – Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, melakukan kunjungan resmi ke sebuah pondok pesantren pada Senin (29/04/2026) untuk meninjau program pelatihan AI yang baru diluncurkan bagi para santri. Kunjungan ini menandai langkah pemerintah dalam memperkenalkan teknologi kecerdasan buatan di lingkungan pendidikan agama, sekaligus menegaskan komitmen pada transformasi digital generasi muda.

Acara dimulai dengan sambutan Kepala Pondok Pesantren, yang menyampaikan bahwa pelatihan AI ini dirancang untuk melibatkan puluhan santri selama tiga bulan, mencakup dasar‑dasar pemrograman, pengolahan data, serta penerapan AI dalam konteks keagamaan dan sosial. Selanjutnya, tim teknis dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memaparkan kurikulum, metodologi pembelajaran berbasis proyek, serta perangkat lunak yang akan dipakai, seperti platform open‑source TensorFlow dan Scratch untuk pemula.

Baca juga:

Rangkaian Kegiatan dan Tujuan Strategis

Pelatihan AI bertujuan memperkuat kompetensi digital santri, sehingga mereka dapat berkontribusi pada solusi berbasis teknologi di lingkungan pesantren maupun masyarakat luas. Program ini juga diharapkan menumbuhkan minat pada bidang sains dan teknologi di kalangan pelajar agama, yang secara tradisional lebih terfokus pada studi klasik.

Selama kunjungan, Gibran meninjau beberapa sesi praktik di laboratorium komputer pesantren, di mana para santri sedang mengembangkan model sederhana untuk analisis teks Al‑Qur’an. Dalam kesempatan itu, ia menekankan pentingnya sinergi antara ilmu agama dan ilmu pengetahuan modern. “Kami ingin memastikan generasi santri siap menghadapi era digital dengan bekal pengetahuan yang seimbang antara nilai religius dan kemampuan teknologi,” ujar Gibran.

Baca juga:

Gibran juga menyoroti peran pemerintah dalam menyediakan infrastruktur yang memadai, termasuk akses internet stabil, perangkat keras, serta pelatihan bagi guru pembimbing. Ia menambahkan, “Investasi pada pendidikan berbasis AI bukan hanya tentang teknologi, melainkan tentang menciptakan peluang kerja dan inovasi yang inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat,” sambil mengajak lembaga pendidikan lain untuk meniru model ini.

Para santri yang berpartisipasi menyatakan antusiasme tinggi terhadap pelatihan AI. Salah satu peserta, Ahmad Fauzi, mengungkapkan, “Saya dulu hanya belajar tajwid, kini saya belajar cara membuat program yang dapat membantu analisis bahasa Arab. Ini membuka pandangan saya tentang bagaimana ilmu agama dapat dipadukan dengan teknologi modern.”

Baca juga:

Kunjungan berakhir dengan penandatanganan nota kesepahaman antara pondok pesantren dan Kementerian Pendidikan, yang mencakup dukungan pendanaan, pelatihan guru, dan evaluasi tahunan terhadap dampak pelatihan AI pada hasil belajar santri. Pemerintah menargetkan replikasi program ini ke lebih dari 200 pesantren di seluruh Indonesia pada akhir tahun depan.

Dengan langkah ini, pemerintah menegaskan posisi Indonesia dalam agenda digital nasional, sekaligus memastikan bahwa pendidikan agama tidak tertinggal dalam revolusi teknologi. Pengembangan kompetensi AI di pesantren diharapkan menjadi contoh integrasi nilai tradisional dengan inovasi modern, mempersiapkan generasi yang siap bersaing di era digital global.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *