Media Pendidikan – 14 April 2026 | Semarang – Universitas PGRI Semarang meluncurkan inisiatif baru untuk memperkuat kesiapsiagaan bencana di lingkungan pendidikan dengan menjadikan SMA Lab UPGRIS sebagai Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB). Upaya ini dilakukan melalui program Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) yang melibatkan mahasiswa universitas dalam proses edukasi dan mitigasi risiko bencana di sekolah menengah tersebut.
Inisiatif dimulai pada awal tahun ini, ketika pihak universitas bersama tim peneliti dan dosen mengunjungi SMA Lab UPGRIS untuk menyampaikan konsep SPAB. Program PPL dirancang agar mahasiswa dapat mengaplikasikan pengetahuan teoritis mereka dalam konteks nyata, sekaligus memberikan kontribusi langsung kepada sekolah dalam hal penilaian risiko, penyusunan rencana darurat, dan pelatihan siswa.
“Universitas PGRI Semarang mendorong penguatan konsep Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) melalui inisiasi mahasiswa praktik pengalaman lapangan (PPL) di SMA Lab UPGRIS,” ujar perwakilan universitas dalam sambutan pembukaan. Pernyataan tersebut menegaskan komitmen akademik untuk menjembatani kesenjangan antara teori keselamatan bencana dan praktik di lapangan.
SPAB sendiri merupakan kerangka kerja yang menekankan integrasi aspek keamanan bencana ke dalam seluruh proses pendidikan, mulai dari kurikulum, fasilitas, hingga budaya sekolah. Dengan mengadopsi model ini, SMA Lab UPGRIS diharapkan dapat menjadi contoh bagi institusi pendidikan lain di Jawa Tengah dalam hal kesiapsiagaan dan respons bencana.
Selama program PPL, mahasiswa melakukan survei mendetail terhadap struktur bangunan, jalur evakuasi, serta sumber daya yang tersedia di SMA Lab UPGRIS. Hasil survei tersebut kemudian dijadikan dasar penyusunan rekomendasi perbaikan, termasuk pemasangan papan informasi, pelatihan guru, dan simulasi evakuasi bagi siswa. Semua langkah ini disusun dengan mengacu pada standar nasional penanggulangan bencana.
Data awal menunjukkan bahwa SMA Lab UPGRIS memiliki kapasitas belajar sekitar 800 siswa dan terletak di zona rawan gempa bumi. Oleh karena itu, implementasi SPAB menjadi krusial untuk mengurangi potensi kerugian serta memastikan keberlangsungan proses belajar mengajar dalam situasi darurat.
Pihak sekolah menyambut baik kolaborasi ini dan menyatakan kesiapan untuk melaksanakan rekomendasi yang diberikan. Kepala SMA Lab UPGRIS menegaskan bahwa program ini tidak hanya meningkatkan keamanan fisik, tetapi juga menumbuhkan kesadaran bencana di kalangan siswa, guru, dan staf sekolah.
Keberhasilan inisiatif ini diharapkan dapat memicu replikasi model serupa di sekolah-sekolah lain, khususnya di daerah dengan tingkat risiko bencana yang tinggi. Universitas PGRI Semarang berencana memperluas program PPL ke lebih banyak institusi pendidikan dalam beberapa bulan ke depan, dengan target mencakup setidaknya lima SMA tambahan pada akhir tahun.
Secara keseluruhan, langkah strategis ini menandai upaya sinergis antara dunia akademik dan institusi pendidikan menengah untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih aman dan tahan terhadap bencana. Dengan melibatkan mahasiswa secara langsung, program ini tidak hanya memperkaya pengalaman belajar mereka, tetapi juga memberikan dampak positif yang signifikan bagi komunitas sekolah.


Komentar