Media Pendidikan – 18 April 2026 | JAKARTA, 17 April 2026 – Gelombang diskusi di media sosial mengemuka setelah sejumlah netizen mengklaim bahwa situs resmi Universitas Pertahanan (Unpert) mengalami gangguan keamanan yang mengarahkan pengunjung ke halaman berbahasa Thailand. Unggahan-unggahan tersebut menyoroti dugaan kebocoran sistem pada platform edukasi militer tersebut, memicu kegelisahan di kalangan mahasiswa, dosen, serta publik luas.
Insiden pertama dilaporkan pada sore hari tanggal 16 April, ketika seorang pengguna Twitter memposting tangkapan layar yang menunjukkan halaman utama Unpert tiba‑tiba menampilkan iklan dan tautan yang tidak berhubungan dengan institusi, termasuk sebuah link yang mengarahkan ke sebuah portal berita berbahasa Thailand. Beberapa netizen lainnya kemudian mengonfirmasi bahwa mereka mengalami hal serupa ketika mengakses situs melalui perangkat seluler maupun komputer desktop.
“Saya masuk ke situs Unpert untuk mengecek jadwal kuliah, tiba‑tiba muncul iklan dan link ke Thailand,” ujar salah satu pengguna media sosial dengan nama samaran @rahmat_2026. “Saya khawatir data pribadi mahasiswa ikut terpapar,” tambahnya. Pernyataan tersebut dengan cepat menyebar, memicu ribuan komentar dan tagar #UnpertHack yang menjadi trending topic di Indonesia.
Menanggapi laporan tersebut, pihak Universitas Pertahanan melalui kantor humas menyatakan bahwa mereka telah menerima sejumlah laporan terkait anomali pada situs resmi. “Kami sedang meneliti laporan tersebut secara menyeluruh dan bekerja sama dengan tim keamanan siber untuk memastikan tidak ada data sensitif yang terekspos,” kata juru bicara Unpert, Bapak Ahmad Fauzi, dalam sebuah pernyataan tertulis yang dirilis pada pukul 10.00 WIB, 17 April 2026.
Di samping itu, Kominfo (Kementerian Komunikasi dan Informatika) mengonfirmasi bahwa mereka telah dimintai klarifikasi terkait dugaan peretasan. Seorang pejabat Kominfo menyatakan, “Kami siap memberikan bantuan teknis kepada universitas untuk mengidentifikasi vektor serangan dan melakukan mitigasi yang diperlukan,” tanpa menyebutkan detail lebih lanjut.
Para pakar keamanan siber memperingatkan bahwa situs institusi pendidikan, terutama yang terkait dengan bidang pertahanan, menjadi target menarik bagi kelompok peretas yang ingin mengumpulkan informasi atau menyebarkan propaganda. “Redirection ke situs luar negeri sering kali merupakan taktik pertama untuk menyisipkan kode berbahaya atau mengumpulkan kredensial login,” ujar Dr. Lina Prasetyo, analis senior di Lembaga Keamanan Digital Indonesia, dalam sebuah wawancara singkat.
Sejauh ini, tidak ada laporan resmi mengenai pencurian data pribadi mahasiswa atau staf, namun pihak universitas menasihati seluruh civitas akademika untuk memperbarui kata sandi akun portal akademik dan mengaktifkan otentikasi dua faktor bila tersedia. Universitas juga berjanji untuk menutup sementara akses ke sub‑domain yang terdampak hingga proses pembersihan selesai.
Insiden ini menambah daftar serangkaian peretasan yang menimpa institusi pendidikan tinggi di Indonesia pada tahun 2026, termasuk beberapa universitas negeri yang mengalami kebocoran data mahasiswa. Observasi tersebut menegaskan pentingnya peningkatan standar keamanan siber di lingkungan akademik, khususnya bagi institusi yang memiliki data sensitif terkait pertahanan negara.
Dengan penyelidikan yang masih berlangsung, Unpert mengimbau agar publik tidak terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi secara resmi. “Kami berkomitmen menjaga keamanan dan kepercayaan publik,” tutup Bapak Ahmad Fauzi, menegaskan langkah-langkah preventif yang sedang diterapkan.


Komentar