Media Pendidikan – 08 April 2026 | Festival Karya Ida Bhatara Turun Kabeh (IBTK) 2026 yang digelar di Pura Agung Besakih pada pekan lalu berhasil menampilkan inovasi transportasi yang mendapat sorotan positif. Pemerintah daerah Karangasem, melalui Kepala Dinas Perhubungan (Pemedek) setempat, memuji keefektifan sistem shuttle bus dalam mengatasi kemacetan yang biasanya menghambat arus pengunjung selama perayaan keagamaan besar.
IBTK, yang menjadi agenda tahunan bagi umat Hindu Bali, menarik ribuan peziarah dan wisatawan domestik maupun mancanegara. Pada edisi 2026, antisipasi kepadatan lalu lintas meningkat seiring dengan penambahan kegiatan budaya, pameran seni, serta lomba tradisional di sekitar kawasan pura. Menyikapi potensi kemacetan, otoritas Karangasem menyiapkan armada shuttle bus khusus yang beroperasi sepanjang hari, mulai pukul 06.00 hingga 22.00 WIB.
Shuttle bus yang disediakan berkapasitas 30 kursi per unit, dilengkapi dengan sistem penjadwalan real-time melalui aplikasi mobile resmi IBTK. Penumpang dapat memesan slot tempat duduk secara online atau langsung di loket yang tersebar di tiga titik utama: Gerbang Pura Besakih, Lapangan Upacara, dan Parkiran Utama Karangasem. Setiap bus melayani rute tetap yang menghubungkan titik-titik tersebut dengan jalur alternatif yang telah disiapkan khusus untuk menghindari persimpangan jalan utama yang rawan kemacetan.
- Rute 1: Gerbang Pura Besakih → Area Upacara → Parkiran Utama.
- Rute 2: Parkiran Utama → Desa Penjor → Pusat Informasi Turis.
- Rute 3: Pusat Informasi Turis → Gerbang Pura Besakih (via jalur belakang).
Keberhasilan sistem ini tidak lepas dari persiapan matang yang melibatkan koordinasi lintas sektor. Dinas Perhubungan Karangasem bekerja sama dengan kepolisian, Satpol PP, serta penyedia layanan transportasi swasta untuk menjamin kelancaran operasional. Setiap unit shuttle dilengkapi dengan driver profesional yang telah mengikuti pelatihan khusus tentang penanganan kerumunan selama acara keagamaan.
Pemedek Karangasem, Bapak I Made Suwarta, menyampaikan apresiasi terhadap respons positif masyarakat. “Kami menerima lebih dari 8.000 pemesanan tiket shuttle sejak pembukaan layanan. Data real-time menunjukkan tingkat kepuasan penumpang di atas 90 persen, dan yang terpenting, arus kendaraan pribadi dapat kami kurangi secara signifikan,” ujar Suwarta dalam konferensi pers yang digelar di Balai Desa Karangasem. Ia menambahkan bahwa selain mengurangi kemacetan, shuttle bus juga berkontribusi pada penurunan emisi gas buang, sejalan dengan program hijau pemerintah daerah.
Selain pengaturan transportasi, pihak penyelenggara IBTK juga menyiapkan fasilitas penunjang lainnya, seperti pos keamanan, titik pertolongan pertama, serta area istirahat dengan layanan air minum dan toilet bersih. Semua fasilitas tersebut ditempatkan secara strategis di sepanjang rute shuttle, memastikan kenyamanan bagi peserta dan pengunjung yang mengandalkan layanan publik.
Para pengguna layanan shuttle bus memberikan testimoni yang menggambarkan kemudahan dan kecepatan akses. Salah satu pengunjung asal Jakarta, Ibu Siti Nurhaliza, mengaku, “Sebelumnya saya khawatir terjebak macet di jalan menuju Besakih, tapi dengan shuttle bus saya sampai tepat waktu dan tidak harus repot mencari tempat parkir.” Sementara itu, seorang pelaku usaha lokal, Bapak Ketut Wira, menilai bahwa penurunan kemacetan membantu meningkatkan penjualan barang kerajinan di sekitar area pasar tradisional yang berada di jalur shuttle.
Analisis data trafik yang dirilis oleh Dinas Perhubungan menunjukkan penurunan signifikan pada jam-jam puncak. Pada hari pertama IBTK, rata-rata waktu tempuh kendaraan pribadi dari Karangasem ke Pura Besakih turun dari 45 menit menjadi hanya 25 menit, berkat pengalihan sebagian besar penumpang ke shuttle bus. Grafik di bawah ini menggambarkan perbandingan volume kendaraan sebelum dan sesudah penerapan sistem shuttle:
| Waktu | Volume Kendaraan Pribadi (sebelum) | Volume Kendaraan Pribadi (sesudah) |
|---|---|---|
| 06.00-08.00 | 1.200 | 720 |
| 08.00-10.00 | 1.500 | 900 |
| 10.00-12.00 | 1.100 | 660 |
Keberhasilan implementasi shuttle bus ini diharapkan menjadi model bagi acara berskala besar lainnya di Bali. Pemedek menegaskan bahwa rencana pengembangan layanan transportasi publik akan terus dipertahankan, termasuk penambahan armada listrik untuk mengurangi jejak karbon. “Kami berkomitmen menjadikan IBTK tidak hanya sebagai perayaan budaya, tetapi juga contoh inovasi berkelanjutan dalam mengelola mobilitas massa,” tuturnya.
Dengan dukungan penuh pemerintah daerah, aparat keamanan, serta partisipasi aktif masyarakat, shuttle bus terbukti menjadi solusi praktis dalam mengurai kemacetan selama IBTK 2026. Keberhasilan ini membuka peluang bagi pengembangan infrastruktur transportasi yang lebih ramah lingkungan dan efisien di masa depan, sekaligus meningkatkan pengalaman spiritual dan wisatawan yang berkunjung ke Pura Agung Besakih.


Komentar