Media Pendidikan – 15 Juni 2026 | Coba perhatikan jalan-jalan di kota mana pun di Indonesia. Di antara warung makan dan apotek, hampir pasti ada gedung dengan spanduk berwarna mencolok bertuliskan nama bimbel atau bimbingan belajar. Bimbel tersebut menjanjikan sesuatu seperti "Dijamin masuk PTN" atau "Nilai pasti naik". Setiap musim ujian tiba, orang tua berbondong-bondong mendaftarkan anaknya.
Bukan Soal Bodoh atau Pintarnya Anak. Selama ini kita menerima begitu saja anggapan bahwa anak yang ikut bimbel adalah anak yang kurang mampu mengikuti pelajaran di sekolah. Namun coba lihat lebih dekat: bimbel hari ini tidak hanya diisi oleh siswa yang kesulitan—banyak yang nilainya sudah bagus pun tapi tetap ikut. Banyak orang tua yang mendaftarkan anaknya bukan karena mereka tertinggal, melainkan karena takut tertinggal.
Di sinilah kunci dari seluruh cerita ini. Bimbel bukan menjual kepintaran, melainkan menjual ketenangan.
Fenomena ini dikenal sebagai shadow education, yakni sistem pendidikan bayangan yang hidup berdampingan dengan sekolah formal. Ia tidak menggantikan sekolah, tapi mengikutinya seperti bayangan. Di mana ada ujian, di situ ada bimbel. Di mana ada persaingan, di situ ada les privat. Bayangan ini tumbuh bukan karena sekolah gagal, melainkan karena ada ketakutan yang terus dipelihara.
Industri yang Hidup dari Rasa Cemas. Ilustrasi orang tua mendampingi anak belajar di rumah. Foto: Andry Sasongko/Pexels
Kecemasan orang tua terhadap masa depan pendidikan anak mendorong mereka untuk terus mencari solusi tambahan di luar sekolah. Semakin tinggi tekanan persaingan, semakin besar pula kekhawatiran yang dirasakan. Lingkaran ini tidak pernah selesai karena standarnya selalu bergerak naik. Industri bimbel memanfaatkan hal ini sebagai keunggulan mereka.
Bimbel membutuhkan uang yang tidak sedikit. Les privat di kota besar bisa menghabiskan ratusan ribu hingga jutaan rupiah per bulan. Bimbel intensif untuk persiapan SNBT bisa menelan biaya yang setara dengan UKT satu semester. Artinya, akses terhadap bimbel bukan soal seberapa keras usaha seorang anak, melainkan seberapa banyak uang orang tuanya.


Komentar