Media Pendidikan – 13 Juni 2026 | Belakangan ini, lini masa media sosial sering dihiasi oleh fenomena unik: tangkapan layar berisi percakapan netizen yang sedang curhat dengan ChatGPT atau Gemini. Isinya bukan lagi soal rumus Excel atau minta dibuatkan coding, melainkan keluh kesah mendalam tentang patah hati, tekanan pekerjaan, hingga rasa hampa dalam hidup.
“Kita hidup di dunia yang hyper-connected—sangat terhubung. Kita bisa punya ribuan pengikut di Instagram, aktif di puluhan grup WhatsApp, dan selalu tahu kabar terbaru dari teman di luar negeri. Namun, mengapa banyak hubungan itu terasa hanya menyentuh permukaan?”
Di era digital, kita melihat paradoks ini bekerja dengan sangat nyata. Kita dikelilingi banyak orang digital, tapi tetap merasa tidak memiliki tempat yang benar-benar aman untuk menumpahkan kerapuhan kita. Pada titik melankolis inilah AI masuk, mengisi ruang kosong yang gagal dipenuhi oleh lingkungan sosial sehari-hari.
“Pertanyaan besarnya bukan lagi seberapa canggih AI tersebut, melainkan sekering apa kualitas hubungan sosial yang sedang kita bangun di dunia nyata?”


Komentar