Media Pendidikan – 20 Mei 2026 | Remaja di Indonesia saat ini menghadapi darurat kesehatan mental yang memerlukan perhatian serius dari semua pihak. Data dari Global School-Based Student Health Survey menunjukkan bahwa persentase anak yang pernah mencoba mengakhiri hidupnya meningkat dari 3,9 persen pada 2015 menjadi 10,7 persen pada 2023.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut temuan ini mengejutkan: "Yang surprising ke kita adalah angkanya naik tinggi". Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kemenkes juga telah mencatat adanya peringatan serius mengenai meningkatnya tren gangguan kesehatan jiwa remaja selama tujuh tahun terakhir.
Survei Kesehatan Indonesia 2023 mencatat bahwa prevalensi gejala depresi tertinggi ada pada kelompok usia 15 hingga 24 tahun. Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) periode 2025-2026 juga memperkuat gambaran yang sama, dengan hampir 10 persen anak yang menjalani skrining terindikasi mengalami masalah kesehatan jiwa.
"Kesehatan mental remaja tidak akan membaik hanya dengan awareness campaign di media sosial atau seminar parenting satu kali setahun. Ia membutuhkan tiga ekosistem yang diperbaiki secara bersamaan: keluarga yang mampu menjadi ruang bicara yang aman, sekolah yang memperlakukan kesehatan mental setara dengan prestasi akademik, dan sistem layanan kesehatan yang memiliki tenaga dan kapasitas memadai untuk merespons", kata Nurul Kusuma Hidayati, pengelola Center for Public Mental Health Universitas Gadjah Mada.
Pemerintah telah menandatangani Surat Keputusan Bersama (SKB) tentang Kesehatan Jiwa Anak, yang bertujuan membangun sistem penanganan terintegrasi dari pencegahan hingga rehabilitasi. Namun, masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas layanan kesehatan mental di Indonesia.


Komentar