Media Pendidikan – 25 April 2026 | Jakarta, 25 April 2026 – Purbaya menegaskan bahwa anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat tidak serta-merta mencerminkan penurunan kondisi ekonomi nasional. Pernyataan tersebut disampaikan dalam sebuah forum ekonomi yang dihadiri oleh kalangan pelaku pasar dan analis keuangan.
Pernyataan Kunci
“Rupiah yang melemah tidak serta-merta menandakan ekonomi kita sedang mengalami kemunduran,” ujar Purbaya. Ia menambahkan bahwa nilai tukar merupakan indikator yang dipengaruhi oleh faktor eksternal, termasuk dinamika pasar global, dan bukan satu‑satunya ukuran kesehatan ekonomi domestik.
Purbaya menekankan pentingnya melihat gambaran yang lebih luas. “Kita harus memperhitungkan faktor eksternal seperti kebijakan moneter di Amerika Serikat, aliran modal internasional, serta sentimen pasar global yang turut memengaruhi pergerakan nilai tukar,” ujarnya. Ia juga menyoroti bahwa kebijakan fiskal pemerintah yang berfokus pada pembangunan infrastruktur dan peningkatan daya saing masih berjalan sesuai rencana.
Para analis pasar menanggapi pernyataan tersebut dengan optimis. Beberapa di antaranya mencatat bahwa meskipun nilai tukar mengalami fluktuasi, arus investasi asing tetap masuk, terutama di sektor teknologi dan manufaktur. Hal ini menunjukkan adanya kepercayaan investor terhadap prospek jangka panjang ekonomi Indonesia.
Di sisi lain, lembaga keuangan mengingatkan bahwa volatilitas nilai tukar dapat memengaruhi biaya impor dan harga konsumen. Oleh karena itu, mereka mengimbau pemerintah untuk terus memantau kebijakan moneter dan memastikan likuiditas pasar tetap terjaga.
Secara keseluruhan, Purbaya menegaskan bahwa penurunan nilai rupiah tidak boleh disalahartikan sebagai gejala kerusakan ekonomi. Ia menutup pernyataannya dengan harapan bahwa pasar akan tetap tenang dan fokus pada pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.


Komentar