Media Pendidikan – 24 April 2026 | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan melanjutkan tekanan penurunan pada perdagangan Jumat, 24 April 2026, setelah menutup Kamis dengan penurunan 2,6 persen ke level 7.378,61. Analisis tim Phintraco Sekuritas menyebut sentimen negatif domestik, terutama melemahnya rupiah, serta ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi penyebab utama.
Sentimen Negatif dari Dalam Negeri
Tim Analis Phintraco menilai bahwa lemah rupiah yang menyentuh level Rp17.300 per dolar AS menjadi faktor utama. “IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan hari ini dan menguji level 7.300,” kata mereka dalam pernyataan pada Jumat. Penurunan nilai tukar ini dianggap sebagai penutupan terburuk bagi rupiah sepanjang masa dan menempatkannya pada posisi terlemah di Asia.
Pengaruh Faktor Eksternal
Selain dampak domestik, konflik yang berlarut di Timur Tengah, khususnya penutupan Selat Hormuz, menjaga harga minyak pada level tinggi. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran inflasi dan defisit anggaran yang lebih luas, menambah tekanan pada pasar saham Indonesia.
Laporan Bank Indonesia menunjukkan uang beredar (M2) meningkat 9,7 persen pada Maret 2026, mencapai Rp10.355 triliun, naik dari pertumbuhan 8,7 persen pada Februari. Peningkatan ini dipengaruhi oleh periode Idul Fitri yang meningkatkan transaksi, investasi, dan konsumsi.
Pandangan Berbeda dari BNI Sekuritas
Berbeda dengan Phintraco, tim analis BNI Sekuritas mengindikasikan peluang rebound jangka pendek. “IHSG secara teknikal dalam jangka pendek berpotensi rebound hari ini,” ujar Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman. Ia memperkirakan IHSG dapat menguji level 7.420, namun memperingatkan bahwa kegagalan menembus level tersebut dapat mengarahkan indeks kembali ke kisaran 7.200.
Data Penjualan Saham Asing
Pada penutupan Kamis, investor asing melakukan net sell sebesar Rp1,36 triliun, dengan saham paling banyak dijual meliputi BBRI, BMRI, ASII, BBCA, dan UNVR. Aktivitas jual beli ini menambah beban tekanan jual pada IHSG.
Secara keseluruhan, pasar saham Indonesia berada pada titik rawan dengan kombinasi faktor makroekonomi domestik dan geopolitik eksternal. Pedagang dan investor diharapkan memantau pergerakan rupiah, harga minyak, serta data likuiditas M2 untuk menilai arah selanjutnya.


Komentar