Ekonomi
Beranda » Berita » PMI Manufaktur Indonesia Kembali ke Zona Ekspansi Dukung Daya Tahan Perekonomian

PMI Manufaktur Indonesia Kembali ke Zona Ekspansi Dukung Daya Tahan Perekonomian

PMI Manufaktur Indonesia Kembali ke Zona Ekspansi Dukung Daya Tahan Perekonomian
PMI Manufaktur Indonesia Kembali ke Zona Ekspansi Dukung Daya Tahan Perekonomian

Media Pendidikan – 03 Juni 2026 | RRI.CO.ID, Jakarta – Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia kembali ke zona ekspansi pada bulan Mei 2026. PMI manufaktur naik ke level 50 dari 49,1 pada bulan April 2026.

Meningkatnya permintaan domestik menjadi faktor utama pendorong kenaikan permintaan baru dan perbaikan aktivitas manufaktur, kata Kepala Bagian Komunikasi, Layanan Informasi, dan Manajemen Pengetahuan Direktorat Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan, Endang Larasati, Selasa, 2 Juni 2026.

Baca juga:

PMI manufaktur yang kembali pada zona ekspansi menunjukkan perekonomian ekonomi Indonesia yang resilien. Resiliensi juga didukung oleh surplus neraca perdagangan dan kinerja ekspor impor yang positif.

Aktivitas manufaktur sebagian besar negara mitra dagang utama Indonesia juga menunjukkan kinerja yang resilien. Di kawasan ASEAN, PMI Manufaktur regional tercatat 51,5.

India masih menjadi salah satu negara dengan ekspansi manufaktur terkuat di level 55 dan Taiwan di level 56,1. PMI manufaktur Amerika Serikat 55,1, Jepang 54,5 dan Korea Selatan 54,8, ujar Endang.

Baca juga:

Beberapa negara lain, PMI manufakturnya masih kontraktif atau di bawa level 50. Diantaranya Malaysia 49,9, Myanmar 49,3, dan Prancis 49,7.

Terjaganya ekspansi manufaktur di sebagian besar mitra dagang utama Indonesia menjadi sinyal positif bagi prospek permintaan eksternal ke depan. Tapi risiko dari tingginya biaya produksi dan ketidakpastian geopolitik global tetap menjadi perhatian, kata Endang.

Sementara itu dari sisi eksternal, neraca perdagangan Indonesia pada April 2026 tetap positif dengan surplus USD90 juta. Surplus neraca perdagangan ditopang surplus perdagangan nonmigas sebesar USD3,53 miliar.

Baca juga:

Surplus neraca perdagangan nonmigas, menutup defisit neraca perdagangan migas sebesar USD3,44 miliar. Sehingga secara kumulatif pada Januari-April 2026 surplus neraca perdagangan mencapai USD5,64 miliar.

Kinerja ekspor pada April 2026 mencapai USD25,30 miliar, ditopang ekspor nonmigas yang tumbuh 23,36 persen secara tahunan. Ekspor industri pengolahan tetap menjadi kontributor utama dalam struktur ekspor nasional.

Ekspor terutama didukung sejumlah komoditas utama, seperti lemak dan minyak hewani/nabati. Termasuk nikel dan barang daripadanya, kendaraan dan bagiannya, serta berbagai produk kimia, kata Endang.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *