Media Pendidikan – 13 April 2026 | Seorang pakar militer asal Iran, Foad Izadi, profesor di Universitas Teheran, menegaskan bahwa Tehran tidak akan ragu menembak kapal-kapal Amerika Serikat (AS) yang melintasi Selat Hormuz. Pernyataan itu muncul setelah Washington mengklaim dua kapal perangnya berhasil melintasi selat tersebut untuk membersihkan ranjau, sementara Iran membantah keberadaan kapal-kapal itu dan menyebutnya sebagai konsekuensi kebuntuan dalam negosiasi antara kedua negara.
Selat Hormuz, selat sempit sepanjang 39 kilometer pada titik terlebar, merupakan jalur strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab. Sekitar 20 persen volume minyak dunia melewati selat ini setiap hari, menjadikannya titik sensitif dalam geopolitik energi. Ketegangan di wilayah tersebut meningkat sejak akhir tahun 2023, ketika AS meningkatkan patroli militer dan Iran menanggapi dengan latihan militer serta retorika keras.
Amerika Serikat, di sisi lain, menegaskan bahwa dua kapal perangnya, USS *Carney* dan USS *St. Louis*, telah melintasi Selat Hormuz pada tanggal 10 April 2024 dengan misi pembersihan ranjau. Pihak militer AS menyatakan bahwa tindakan tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga kebebasan navigasi di perairan internasional, sekaligus menanggapi ancaman ranjau yang dipasang oleh kelompok pro‑Iran.
Iran membantah klaim tersebut, menyebutkan bahwa tidak ada kapal AS yang berada di wilayah tersebut pada waktu yang sama. Pemerintah Tehran menuduh AS memanfaatkan narasi pembersihan ranjau sebagai kedok untuk menunjukkan keberanian militer di kawasan yang sudah tegang. Kebuntuan dalam pembicaraan kembali ke program nuklir Iran dan sanksi ekonomi menjadi latar belakang utama perselisihan ini.
Data dari International Maritime Organization (IMO) mencatat bahwa rata-rata terdapat 40.000 kapal komersial yang melintas Selat Hormuz setiap tahunnya. Dari jumlah itu, sekitar 30 persen merupakan kapal tanker minyak, sementara sisanya adalah kapal kargo umum. Peningkatan patroli militer AS diperkirakan menambah risiko insiden, terutama bila kedua belah pihak terus saling menuduh pelanggaran.
Para analis keamanan menilai bahwa pernyataan Izadi mencerminkan sikap keras Iran dalam menanggapi apa yang dianggapnya sebagai intervensi militer AS. Namun, mereka juga mencatat bahwa Tehran masih mengandalkan diplomasi di forum internasional untuk menurunkan tekanan ekonomi yang dihadapi negara itu. Sejauh ini, belum ada laporan resmi tentang insiden tembakan di selat tersebut.
Jika ketegangan terus berlanjut, potensi dampak pada harga minyak dunia dapat menjadi signifikan, mengingat peran Selat Hormuz dalam rantai pasok energi global. Pengamat ekonomi menekankan pentingnya dialog multilateral untuk mencegah eskalasi yang dapat mengganggu stabilitas pasar energi.
Ke depan, kedua belah pihak diharapkan memperkuat saluran komunikasi guna menghindari konfrontasi militer yang dapat berujung pada kerugian besar, tidak hanya bagi Iran dan AS, tetapi juga bagi ekonomi global yang bergantung pada kelancaran aliran minyak melalui selat strategis ini.


Komentar