Media Pendidikan – 03 Mei 2026 | Penelitian terbaru yang dipublikasikan oleh Kumparan Mom mengungkap bahwa pola pengasuhan berlebihan atau overparenting dapat meningkatkan risiko depresi dan kecemasan pada anak hingga dewasa. Meta‑analisis yang dilakukan oleh tim peneliti Shanghai Normal University menggabungkan 44 studi dengan lebih dari 21.000 partisipan, menunjukkan korelasi konsisten antara tingkat overparenting yang tinggi dengan masalah kesehatan mental.
Apa Itu Overparenting?
Overparenting merupakan gaya pengasuhan di mana orang tua terlalu sering terlibat dalam kehidupan anak, mulai dari mengambil alih masalah sehari‑hari, melindungi dari setiap kegagalan, hingga mengontrol keputusan penting. Meskipun tampak sebagai bentuk kasih sayang, intervensi berlebihan dapat mengurangi ruang bagi anak untuk belajar mandiri.
Dampak Overparenting pada Kesehatan Mental
Hasil meta‑analisis mengidentifikasi bahwa anak‑anak yang dibesarkan dalam lingkungan overparenting memiliki probabilitas lebih besar mengalami kecemasan, depresi, serta gangguan mental lainnya. Hubungan ini menjadi semakin kuat seiring bertambahnya usia, terutama ketika mereka memasuki masa remaja hingga dewasa awal. Artinya, konsekuensi tidak selalu tampak pada masa kanak‑kanak, melainkan dapat muncul di kemudian hari.
“Anak yang terus‑menerus diselamatkan akan kehilangan kesempatan belajar mengatasi tantangan,” kata salah satu peneliti utama. Penelitian menegaskan bahwa kemampuan mengambil keputusan, menyelesaikan masalah, dan menghadapi konsekuensi merupakan fondasi penting untuk kemandirian.
Dalam psikologi, terdapat tiga kebutuhan dasar anak untuk berkembang secara sehat: otonomi (merasa memiliki kontrol), kompetensi (merasakan kemampuan), dan relasi (merasa terhubung). Overparenting cenderung menghambat otonomi dan kompetensi karena anak jarang diberi kesempatan untuk mencoba sendiri.
- Otonomi: memberi ruang bagi anak membuat pilihan.
- Kompetensi: memungkinkan anak mengasah kemampuan melalui pengalaman.
- Relasi: membangun ikatan emosional yang mendukung.
Tanpa tantangan yang aman, anak tidak dapat mengembangkan daya tahan mental. Oleh karena itu, orang tua disarankan untuk beralih dari peran “penyelamat” menjadi pendukung yang memberi kesempatan bagi anak mencoba, membuat kesalahan kecil, dan belajar dari proses tersebut.
Strategi Mengurangi Overparenting
Beberapa langkah praktis yang dapat diterapkan antara lain:
- Mendorong anak mencoba terlebih dahulu sebelum memberikan bantuan.
- Mengizinkan kesalahan kecil sebagai bagian dari proses belajar.
- Menjadi pendengar aktif, bukan pengambil keputusan.
- Mengatur batasan yang realistis agar anak dapat menguji batas kemampuannya.
Dengan menyeimbangkan dukungan dan kebebasan, orang tua tidak hanya melindungi anak hari ini, tetapi juga mempersiapkan mereka menghadapi tantangan hidup di masa depan.


Komentar