Ekonomi
Beranda » Berita » OJK Tekan Beban Kesehatan Mandiri, Dorong Peran Asuransi Komersial ke 5% Nasional

OJK Tekan Beban Kesehatan Mandiri, Dorong Peran Asuransi Komersial ke 5% Nasional

OJK Tekan Beban Kesehatan Mandiri, Dorong Peran Asuransi Komersial ke 5% Nasional
OJK Tekan Beban Kesehatan Mandiri, Dorong Peran Asuransi Komersial ke 5% Nasional

Media Pendidikan – 13 April 2026 | Jakarta, 13 April 2026 – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyoroti tingginya proporsi belanja kesehatan yang masih dibiayai secara langsung oleh masyarakat. Menurut data OJK, sekitar Rp175 triliun atau setara 28,8 % dari total pembiayaan kesehatan nasional masih dibayar out-of-pocket.

Dalam acara yang diselenggarakan di Ballroom Ritz-Carlton Pacific Place, Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK, Ogi Prastomiyono, menegaskan bahwa target utama regulasi kali ini adalah menurunkan beban pembayaran mandiri tersebut. Ia menyatakan, “Ada 28,8 persen dari total pembelanjaan kesehatan, itu masih bayar pakai uang sendiri atau disebut dengan out of pocket. Nah 28,8 persen itu jumlahnya Rp175 triliun, itu yang kita mau turunkan,”.

Baca juga:

OJK juga mengumumkan rencana kerja sama dengan Kementerian Kesehatan untuk memperkuat asuransi kesehatan komersial. Saat ini, asuransi komersial hanya menyumbang sekitar lima persen dari total belanja kesehatan nasional. Ogi menambahkan, “Kita mesti geser ke asuransi komersial yang saat ini masih lima persen dari total belanja kesehatan nasional. Nah itu kita mau tingkatkan, kita sekarang bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan,”.

Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan penetrasi asuransi kesehatan, sehingga proporsi pembayaran out-of-pocket dapat turun secara signifikan. Jika target tercapai, kontribusi asuransi komersial dapat naik menjadi dua digit, mendekati sepuluh persen atau lebih.

Baca juga:

Para pelaku industri menilai bahwa penguatan peran asuransi tidak cukup hanya dengan meningkatkan premi, melainkan juga harus memperbaiki kualitas bisnis. Direktur Utama PT Asuransi ASEI Indonesia, Dody Dalimunthe, menekankan pentingnya keberlanjutan, “Ke depan industri asuransi tidak lagi mengejar premi besar, tapi fokus pada kualitas bisnis dan keberlanjutan. Ini penting agar industri tetap sehat dan mampu memberikan perlindungan yang optimal bagi masyarakat,”.

Penguatan literasi pasar asuransi juga menjadi agenda paralel. OJK berencana meluncurkan program edukasi yang menargetkan konsumen ritel, agar masyarakat memahami manfaat polis asuransi kesehatan serta cara mengklaimnya. Upaya ini sejalan dengan kebijakan OJK yang sebelumnya memfokuskan pada literasi pasar modal untuk memperluas investor ritel.

Baca juga:

Jika kebijakan ini berjalan efektif, proyeksi OJK menunjukkan penurunan out-of-pocket hingga di bawah 20 % dalam lima tahun ke depan, sekaligus meningkatkan kontribusi asuransi komersial menjadi 10-12 % dari total pembiayaan kesehatan nasional.

Berita Terkait

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *