Ekonomi
Beranda » Berita » Menteri Pertanian Ungkap RI Tetap Impor Menir Meski Persediaan Beras Melimpah

Menteri Pertanian Ungkap RI Tetap Impor Menir Meski Persediaan Beras Melimpah

Menteri Pertanian Ungkap RI Tetap Impor Menir Meski Persediaan Beras Melimpah
Menteri Pertanian Ungkap RI Tetap Impor Menir Meski Persediaan Beras Melimpah

Media Pendidikan – 05 April 2026 | Jakarta, 5 April 2026Menteri Pertanian Amran Sulaiman menegaskan bahwa Indonesia masih harus mengimpor menir meskipun stok beras nasional menunjukkan surplus yang signifikan. Pernyataan tersebut disampaikan dalam rapat koordinasi lintas sektor yang membahas strategi ketahanan pangan dan upaya menurunkan ketergantungan pada bahan baku impor.

Menir, atau beras pecah kulit, merupakan bahan baku utama dalam industri makanan olahan seperti mi instan, snack, dan pakan ternak. Permintaan menir domestik terus meningkat seiring dengan pertumbuhan industri makanan siap saji serta kebutuhan pakan ternak yang mendukung produksi daging dan susu dalam negeri. Meskipun kebutuhan ini terus bertambah, pasokan menir lokal belum mampu memenuhi seluruh permintaan pasar.

Baca juga:

Sementara itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa persediaan beras gabah di gudang-gudang negara mencapai lebih dari 35 juta ton pada kuartal terakhir, angka yang jauh melampaui target kecukupan stok pangan nasional. Stok yang melimpah ini seharusnya menjadi dasar bagi pemerintah untuk mengoptimalkan proses hilirisasi beras menjadi menir, sehingga dapat menurunkan impor secara signifikan.

Sejak awal 2023, Indonesia secara rutin mengimpor menir dari negara-negara produsen utama seperti Thailand, India, dan Pakistan. Total impor menir pada tahun 2023 mencapai 350 ribu ton, dengan nilai mencapai lebih dari US$120 juta. Angka ini menimbulkan pertanyaan mengapa negara dengan persediaan beras melimpah masih harus mengeluarkan dana besar untuk bahan baku yang seharusnya dapat diproduksi secara domestik.

Menanggapi persoalan tersebut, Menteri Amran Sulaiman menekankan pentingnya akselerasi hilirisasi beras. “Kita memiliki stok beras yang cukup, namun nilai tambahnya masih terbatas pada penjualan beras mentah. Dengan meningkatkan kapasitas penggilingan menir di dalam negeri, kita tidak hanya mengurangi impor, tetapi juga menciptakan lapangan kerja dan menambah devisa,” ujarnya.

Baca juga:

Beberapa langkah konkret yang dijabarkan oleh Kementerian Pertanian meliputi:

  • Peningkatan kapasitas penggilingan menir melalui insentif fiskal dan kredit lunak bagi pelaku industri kecil dan menengah.
  • Penyediaan lahan industri khusus di daerah penghasil beras utama, seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sumatera Utara.
  • Pelatihan tenaga kerja teknis dalam proses pemecahan beras menjadi menir yang efisien dan ramah lingkungan.
  • Penguatan rantai pasok dengan memfasilitasi transportasi gabah dari gudang negara ke pabrik penggilingan.
  • Pengembangan standar mutu menir nasional untuk meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar internasional.

Reaksi dari asosiasi produsen makanan dan pakan ternak umumnya positif. Mereka menilai kebijakan hilirisasi dapat menstabilkan harga menir domestik, yang selama ini dipengaruhi oleh fluktuasi pasar impor. Namun, beberapa pelaku industri mengingatkan bahwa proses transisi tidak dapat terjadi dalam semalam. Dibutuhkan waktu untuk membangun fasilitas baru, menyesuaikan proses produksi, dan memastikan kualitas menir yang dihasilkan memenuhi standar industri.

Di sisi lain, petani beras menyambut baik inisiatif pemerintah untuk meningkatkan nilai tambah produksi mereka. Dengan adanya permintaan menir domestik yang lebih besar, petani dapat memperoleh harga jual gabah yang lebih menguntungkan, sekaligus mengurangi risiko penurunan harga pada saat musim panen melimpah.

Baca juga:

Meski prospek hilirisasi menjanjikan, tantangan tetap ada. Faktor utama yang menghambat adalah keterbatasan investasi di sektor penggilingan menir, terutama bagi usaha kecil yang belum memiliki akses ke modal. Selain itu, regulasi lingkungan terkait limbah penggilingan perlu dipertimbangkan agar proses produksi tidak menimbulkan dampak negatif pada ekosistem setempat.

Secara keseluruhan, pernyataan Menteri Pertanian menegaskan komitmen pemerintah untuk mengoptimalkan stok beras nasional sebagai sumber daya strategis dalam rangka mengurangi impor menir. Dengan kebijakan yang terkoordinasi antara kementerian, pemerintah daerah, dan sektor swasta, Indonesia berpotensi mengubah surplus beras menjadi produk bernilai tambah tinggi, memperkuat ketahanan pangan, dan meningkatkan kesejahteraan petani serta pekerja industri pengolahan.

Berita Terkait

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *