Ekonomi
Beranda » Berita » Menteri Pertanian Kuasai Operasional BUMN Pangan, Harga Minyak Mentah Melonjak Tajam

Menteri Pertanian Kuasai Operasional BUMN Pangan, Harga Minyak Mentah Melonjak Tajam

Menteri Pertanian Kuasai Operasional BUMN Pangan, Harga Minyak Mentah Melonjak Tajam
Menteri Pertanian Kuasai Operasional BUMN Pangan, Harga Minyak Mentah Melonjak Tajam

Media Pendidikan – 18 April 2026 | Jakarta, 17 April 2026Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman resmi memperoleh wewenang baru untuk mengendalikan operasional Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di sektor pangan, sekaligus menyaksikan lonjakan tajam harga minyak mentah dunia pada hari sebelumnya.

Pengangkatan tersebut diatur dalam Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2026 tentang Percepatan Swasembada Pangan, yang mulai berlaku sejak 25 Maret 2026. Melalui kebijakan itu, Mentan tidak lagi hanya berperan sebagai regulator produksi, melainkan menjadi koordinator utama bagi perusahaan-perusahaan strategis seperti PT Agrinas Pangan Nusantara (Persero), PT Agrinas Palma Nusantara (Persero), PT Perkebunan Nusantara III (Persero), PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero), PT Pupuk Indonesia (Persero), Perum Bulog, serta BUMN terkait lainnya.

Baca juga:

"Kami berkomitmen untuk mempercepat swasembada pangan melalui koordinasi yang lebih erat dengan BUMN," ujar Andi Amran Sulaiman dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Rabu (15/4/2026). Tiga pilar utama wewenang baru tersebut meliputi penugasan operasional, penetapan indikator kinerja utama secara tertulis, serta pertimbangan dalam pengangkatan dan pemberhentian direksi, dewan komisaris, dan dewan pengawas BUMN pangan. Dukungan teknis akan diberikan oleh Kepala Badan Pengawas BUMN dan Tim Nasional Pengembangan Pertanian (Danantara).

Sementara itu, pasar energi global mengalami tekanan berat setelah konflik antara Amerika SerikatIsrael dengan Iran mengguncang pasokan minyak di Timur Tengah. Pada Kamis (16/4/2026), kontrak berjangka minyak mentah Brent naik USD 4,46 atau 4,7 persen menjadi USD 99,39 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) meningkat USD 3,40 atau 3,7 persen menjadi USD 94,69 per barel.

Baca juga:

Gangguan utama berasal dari Selat Hormuz, jalur penyebrangan yang biasanya mengalirkan sekitar 20 persen total minyak dunia. Analisis ING memperkirakan sekitar 13 juta barel per hari terhambat akibat penutupan atau pembatasan lalu lintas di selat tersebut, menurunkan pasokan ke pasar Asia dan Afrika. Data pemerintah Amerika Serikat mencatat penurunan persediaan minyak mentah sebesar 913.000 barel pada pekan sebelumnya, jauh di bawah perkiraan kenaikan 154.000 barel oleh para analis.

Implikasi kebijakan Mentan dan gejolak harga minyak mentah saling melengkapi dalam konteks ketahanan nasional. Penguatan kontrol atas BUMN pangan diharapkan menstabilkan pasokan makanan dalam negeri, sementara fluktuasi harga energi dapat memengaruhi biaya produksi pertanian dan logistik pangan.

Baca juga:

Ke depan, Kementerian Pertanian berjanji akan memantau dampak harga minyak terhadap rantai pasok pangan dan menyesuaikan kebijakan operasional BUMN guna menjaga stabilitas harga bahan pokok. Sementara itu, pasar energi masih diprediksi akan tetap volatile hingga ada penyelesaian diplomatik yang jelas di kawasan Timur Tengah.

Berita Terkait

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *