Ekonomi
Beranda » Berita » Inflasi April Diprediksi Turun Menjadi 2,9–3,1% Usai Efek Lebaran Mereda, Daya Beli Masih Rapuh

Inflasi April Diprediksi Turun Menjadi 2,9–3,1% Usai Efek Lebaran Mereda, Daya Beli Masih Rapuh

Inflasi April Diprediksi Turun Menjadi 2,9–3,1% Usai Efek Lebaran Mereda, Daya Beli Masih Rapuh
Inflasi April Diprediksi Turun Menjadi 2,9–3,1% Usai Efek Lebaran Mereda, Daya Beli Masih Rapuh

Media Pendidikan – 04 Mei 2026 | Bank Indonesia bersama Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan inflasi pada bulan April akan berada di kisaran 2,9 hingga 3,1 persen. Penurunan ini didorong oleh melandainya tekanan harga setelah musim Lebaran, namun daya beli masyarakat belum kembali pulih secara signifikan.

Proyeksi dan Faktor Penurunan

Data perkiraan menyebutkan bahwa efek belanja Lebaran yang biasanya mengangkat permintaan barang konsumsi mulai memudar pada kuartal pertama. Akibatnya, tekanan pada harga makanan dan kebutuhan pokok mengalami relaksasi, memungkinkan tingkat inflasi bergerak turun dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.

Baca juga:

“Inflasi April diperkirakan berada di kisaran 2,9 hingga 3,1 persen,” ujar BPS dalam pernyataan resmi. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa penurunan bukan hasil kebijakan moneter yang agresif, melainkan dampak temporer dari berakhirnya musim belanja Lebaran.

Meski demikian, peningkatan harga energi dan transportasi tetap menjadi beban bagi konsumen. Kenaikan harga BBM dan tarif angkutan umum yang masih berada di atas level rata‑rata tahun lalu menahan laju pemulihan daya beli.

Baca juga:

Daya Beli yang Masih Lemah

Penurunan inflasi pada April tidak otomatis berarti peningkatan kesejahteraan. Konsumen masih menghadapi tantangan dalam menutupi kebutuhan pokok, terutama di wilayah dengan tingkat kemiskinan tinggi. Data BPS mencatat bahwa wilayah Jawa Barat dan Jawa Tengah mencatat inflasi yang sedikit di atas rata‑rata nasional, memperkuat pola disparitas regional.

Risiko Kenaikan di Kuartal II

Para ekonom memperingatkan adanya risiko inflasi kembali naik pada kuartal II. Faktor-faktor yang dapat memicu kebalikan tren meliputi peningkatan harga komoditas global, terutama pangan dan bahan bakar, serta potensi fluktuasi nilai tukar rupiah.

Baca juga:

Jika tekanan eksternal tersebut tidak terkendali, Bank Indonesia mungkin akan menyesuaikan kebijakan suku bunga untuk menahan laju inflasi. Kebijakan tersebut dapat berdampak pada biaya pinjaman bagi sektor usaha dan konsumen.

Secara keseluruhan, meskipun proyeksi inflasi April menunjukkan penurunan, kondisi daya beli masyarakat masih lemah dan rentan terhadap goncangan eksternal. Pemantauan ketat terhadap perkembangan harga komoditas internasional dan kebijakan fiskal akan menjadi kunci untuk menjaga stabilitas harga di paruh kedua tahun ini.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *