Media Pendidikan – 04 Mei 2026 | Mbah Mardijiyono, jemaah haji berusia 103 tahun asal Yogyakarta, tiba di Bandara Prince Mohammed Bin Abdul Aziz, Arab Saudi, pada Minggu 3 Mei 2024. Kedatangan beliau menjadi sorotan media karena usianya yang melampaui satu abad sekaligus tekadnya menunaikan ibadah haji.
Setibanya di bandara, Mardijiyono bersama rombongan jemaah haji dari embarkasi Yogyakarta 9 turun dari mobil golf dan langsung digendong ke kursi roda oleh pendamping. Kondisinya memang renta, namun senyumannya tak pudar, menandakan semangat yang masih kuat.
Perjalanan dari Yogyakarta ke Tanah Suci
Rombongan yang dipimpin oleh pembimbing haji berangkat dari Yogyakarta pada tanggal 28 April dan menempuh rute darat hingga pelabuhan, kemudian melanjutkan perjalanan laut ke pelabuhan Jeddah. Setelah proses imigrasi, mereka dipindahkan ke bandara Prince Mohammed Bin Abdul Aziz. Di sana, Mardijiyono dijemput oleh petugas dan dibantu naik ke bus menuju hotel dekat Masjid Nabawi.
Selama proses penurunan, Mardijiyono menggunakan alat bantu pendengar. Hal ini membuat komunikasinya harus menggunakan suara yang cukup lantang. Ketika ditanya wartawan tentang usianya, beliau menjawab dengan tegas, “103.”
Wartawan kemudian menanyakan motivasinya. Tanpa ragu, Mardijiyono mengungkapkan tujuan utamanya: “Ndak pengin apa-apa, penginnya ibadah.” Jawaban itu disampaikan dengan keyakinan yang menginspirasi, sekaligus menegaskan bahwa tidak ada hal materi yang diinginkannya selain menunaikan ibadah di Tanah Suci.
Selain itu, ketika ditanya doa apa yang akan dipanjatkan di Masjid Nabawi, beliau kembali menegaskan bahwa fokusnya hanyalah beribadah. Meski giginya sudah tidak lengkap, senyum ramahnya tetap menular kepada semua yang berada di sekitarnya.
Kehadiran Mardijiyono menjadi catatan sejarah, karena ia tercatat sebagai jemaah haji tertua yang pernah melakukan ibadah pada usia lebih dari seratus tahun. Pemerintah Kementerian Haji dan Umrah DIY turut mengirimkan tim medis untuk memastikan kesehatannya selama berada di Arab Saudi.
Setelah istirahat sejenak di hotel, Mardijiyono siap melanjutkan rangkaian ibadah, termasuk ziarah ke Masjid al‑Qudsah dan berkeliling Madinah. Pembimbingnya menyatakan bahwa tim medis akan terus memantau kondisi beliau, sekaligus memastikan semua fasilitas yang dibutuhkan tersedia.
Keberanian Mardijiyono menempuh rute haji pada usia 103 tahun menjadi inspirasi bagi banyak orang di Indonesia. Kisahnya menegaskan bahwa semangat beribadah tidak mengenal batas usia, melainkan didorong oleh keikhlasan dan tekad yang kuat.


Komentar