Media Pendidikan – 22 Juni 2026 | Peran sekolah dalam membentuk persepsi gender tentang kepemimpinan tidak hanya terbatas pada kurikulum formal. Nilai-nilai, norma, dan kebiasaan yang tidak tertulis, tetapi dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari di sekolah, juga berpengaruh. Sejak bangku sekolah dasar, struktur kecil dalam kelas sudah memperkenalkan kita pada konsep kepemimpinan. Pemilihan ketua kelas, misalnya, sering kali tanpa disadari lebih banyak diberikan kepada siswa laki-laki. Alasannya beragam, karena laki-laki dianggap lebih tegas, lebih berani berbicara, atau lebih cocok memimpin.
Dalam perspektif sosiologi pendidikan, apa yang terjadi di sekolah tidak hanya terbatas pada kurikulum formal, tetapi juga mencakup apa yang disebut sebagai hidden curriculum atau kurikulum tersembunyi. Ini merujuk pada nilai-nilai, norma, dan kebiasaan yang tidak tertulis, tetapi dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari di sekolah. Salah satunya adalah bagaimana peran kepemimpinan dikonstruksi melalui interaksi sederhana di kelas.
Akibatnya, siswa tidak hanya belajar tentang materi pelajaran, tetapi juga menyerap gambaran sosial tentang siapa yang “pantas” menjadi pemimpin. Proses ini berlangsung lama dan berulang, sehingga membentuk imajinasi kolektif yang terlihat “alami”, padahal sebenarnya merupakan hasil konstruksi sosial.
Fenomena ini penting untuk dipahami karena imajinasi tentang pemimpin tidak berhenti di ruang kelas. Ia terbawa hingga ke kehidupan dewasa, termasuk dalam cara kita menilai calon pemimpin di dunia politik. Ketika sosok presiden lebih mudah dibayangkan sebagai laki-laki, itu menunjukkan bahwa representasi dan pengalaman sejak kecil memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap cara berpikir kita.


Komentar