Media Pendidikan – 25 April 2026 | Seorang warga senior yang dikenal dengan nama Mbah Sarjo memutuskan untuk menjual sebidang tanah miliknya demi menunaikan ibadah haji pada usia senja. Keputusan ini diambil setelah ia menyadari bahwa masa mudanya telah lama berlalu dan haji menjadi prioritas utama sebagai bekal spiritual menjelang akhir hayat.
Mbah Sarjo, yang tinggal di daerah pedesaan Indonesia, mengungkapkan bahwa ia tidak lagi mampu menanggung biaya perjalanan haji secara konvensional. “Saya ingin berangkat haji sebagai bekal akhir hayat,” ujarnya dengan nada tegas namun penuh harap. Keputusan menjual tanah, meski berat, dianggapnya sebagai langkah yang layak demi menunaikan panggilan agama yang telah lama tertunda.
Proses penjualan tanah berjalan selama beberapa minggu, melibatkan tetangga dan kerabat yang membantu menilai nilai pasar lahan. Meskipun tidak ada angka pasti yang dipublikasikan, Mbah Sarjo memastikan bahwa hasil penjualan cukup untuk menutupi biaya tiket, akomodasi, dan keperluan selama di Tanah Suci. Ia menekankan pentingnya perencanaan finansial yang matang sebelum menapaki rukun Islam yang kelima.
Keputusan ini mendapat respons positif dari komunitas sekitar. Banyak yang menyatakan rasa kagum atas tekad Mbah Sarjo yang tidak membiarkan usia menjadi penghalang untuk beribadah. Salah satu tetangganya menambahkan, “Keberanian beliau menjadi contoh bahwa iman tidak mengenal batas usia, dan pengorbanan demi haji memang mulia.”
Secara budaya, penjualan aset pribadi untuk menunaikan haji tidaklah hal baru di Indonesia. Namun, kisah Mbah Sarjo menonjol karena ia melakukannya pada masa senja, menegaskan bahwa haji bukan sekadar ritual perjalanan, melainkan sebuah persiapan spiritual menjelang akhir hayat. Ia berharap pengalaman ini dapat menginspirasi generasi muda maupun tua untuk memprioritaskan nilai-nilai keagamaan di atas kepentingan materi.
Dengan dana yang kini telah terkumpul, Mbah Sarjo tengah menyiapkan dokumen dan persiapan administratif untuk keberangkatan. Ia berencana berangkat pada musim haji berikutnya, membawa harapan dan doa bagi keluarga serta umat. Cerita ini menjadi pengingat bahwa semangat beribadah dapat terus menyala, meski tantangan hidup semakin berat di usia lanjut.


Komentar